Demi Jalan 'Kebenaran', Pakistan Tolak Blokir Wikileaks

LAHORE (Berita SuaraMedia) - Pengadilan Tinggi Lahore (LHC), Pakistan, menolak petisi yang dilayangkan untuk memblokir situs whistle-blower WikiLeaks. Pengadilan menganggap bahwa warga harus mengetahui kebenaran.

Hakim pengadilan LHC, Azmat Said, menolak petisi yang dilayangkan pengacara perwakilan, Arif Gondal. Menurut Said kebenaran yang ada di dalam dokumen tersebut tidak boleh ditutup-tutupi atau disembunyikan dari warga Pakistan.

Dalam ajuannya, Gondal mengklaim jika aksi WikiLeaks itu sangat berpotensi menciptakan perbedaan di kalangan negara muslim dan bisa menimbulkan anarki di Pakistan.

Bahkan Gondal menganggap jika WikiLeaks telah memfitnah negara Pakistan.

Namun begitu hakim tetap pada pendiriannya untuk tidak memblokir WikiLeaks.

Bahkan hakim menganggap tidak ada yang salah untuk mengungkap tindakan beberapa orang yang berada di koridor kekuasaan.

"Kita harus memiliki keberanian untuk menghadapi kritik," ujarnya seperti diberitakan melalui Times of India.

Ditambahkan Said, selama ini WikiLeaks telah merilis sekira 170 dokumen terkait Pakistan dan tidak akan ada apapun yang terjadi jika warga Pakistan mengetahui yang sebenarnya.

Salah satu dokumen yang ada menyebutkan jika tentara Pakistan telah membiarkan pasukan khusus AS untuk bergabung dengan mereka dalam operasi di wilayah tanpa hukum milik suku Waziristan tahun lalu. Padahal selama ini pemerintah Pakistan berkomitmen untuk tidak mengizinkan pasukan asing beroperasi di negara ini.

Selain itu, dalam dokumen lain juga disebutkan, mantan duta besar AS mengatakan jika Pakistan tidak mungkin akan meninggalkan dukungan terhadap kelompok militan karena pemerintah menganggap kelompok militan sebagai bagian penting dari aparat keamanan nasional mereka untuk melawan India.

Sementara itu, sebelumnya dikabarkan WikiLeaks tidak bisa diakses setelah domainnya dimatikan oleh penyedia domain EveryDNS.net.

"Domain WikiLeaks.org telah 'dimatikan' oleh EveryDNS.net di Amerika Serikat (AS) dengan alasan adanya serangan massal ke situs," ujar pihak WikiLeaks melalui akun Twitter resmi, seperti diberitakan melalui News.com.

Perusahaan penyedia domain yang bertanggung jawab pun tidak membantah bahwa mereka telah menghilangkan situs WikiLeaks.org yang telah bekerja sama dengan EveryDNS.net selama empat tahun

Namun tak lama setelah kejadian itu, pihak Wikileaks mengumumkan bahwa WikiLeaks kini bisa diakses kembali namun dengan hosting yang berbeda.

WikiLeaks biasa diakses di alamat WikiLeaks.org. Kini Domain tersebut telah berganti menjadi WikiLeaks.ch.

Dalam akun Twitternya WikiLeaks mengaku telah berpindah ke Switzerland dengan domain seperti di atas.

"WikiLeaks moves to Switzerland," tulis pihak WikiLeaks.

Untuk memunculkan kembali situs mereka, WikiLeaks diharuskan mendaftarkan domain WikiLeaks.org ke penyedia domain lain. Domain WikiLeaks.org sendiri seharusnya menjadi milik mereka hingga 2018 nanti.

Aksi EveryDNS.net ini merupakan tahap berikutnya setelah sebelumnya penyedia server Amazon juga melakukan hal yang sama, memutuskan kerja sama dengan WikiLeaks karena situs itu dianggap melanggar ketentuan.

WikiLeaks bersiap untuk membocorkan sisa-sisa dokumen kabel diplomatik AS, termasuk sekira 3.000-an dokumen terkait diplomatik dengan Indonesia, khususnya melalui Kedubes AS di Jakarta. (ism) www.suaramedia.com