Bendera La Ilaha ill-Allah Bukan Panji Sosialisme


Dalam bab kedua buku Petunjuk Jalan yang berjudul Wujud Metode Al-Qur’an, Sayyid Quthb menganalisa mengapa Allah mengharuskan Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam mengibarkan bendera La ilaha ill-Allah bukan bendera lainnya. Padahal dengan mengibarkan bendera La ilaha ill-Allah bangsa Arab bukan saja enggan menerima seruan tersebut, tetapi bahkan menentang dengan keras sampai ke tingkat mengusir dan memerangi Nabi shollallahu ’alaih wa sallam dan para sahabat.


Tidakkah ada pilihan strategi lain yang lebih memperkecil resiko dan mengandung maslahat lebih besar? Misalnya, mengapa Nabi shollallahu ’alaih wa sallam tidak diarahkan Allah untuk mengibarkan panji Sosialisme (kemasyarakatan) yang lebih solutif menghadapi problema sosial bangsa Arab yang diwarnai pertentangan kelas antara kaum borjuis elite minoritas yang berlaku zalim terhadap kaum mayoritas fakir-miskin yang terzalimi? Bila bendera sosialisme yang dikibarkan sejak hari pertama sangat mungkin menghasilkan penerimaan kaum mayoritas dari kalangan bangsa Arab yang sedang tertindas. Perhatikanlahlah tulisan Sayyid Quthb berikut ini:



Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam diutus dengan agama ini, sedangkan pada waktu itu masyarakat Arab berada dalam kondisi masyarakat yang terburuk dipandang dari segi distribusi kekayaan dan keadilan. Sekelompok kecil manusia memiliki harta benda dan perdagangan, melakukan riba, sehingga perdagangan dan hartanya menjadi berlipat ganda. Bahagian rakyat yang terbesar hanya memiliki penderitaan dan kelaparan. Mereka yang memiliki harta kekayaan juga memiliki kemuliaan dan status. Sedangkan massa yang banyak jumlahnya itu sama sekali tidak mempunyai harga dan kemuliaan.

Barangkali ada orang yang mengatakan : Adalah dalam kesanggupan Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam untuk mengibarkan bendera kemasyarakatan, mengobarkan peperangan terhadap golongan orang-orang yang bangsawan, dan menjadikannya suatu da'wah yang bertujuan merubah situasi, dan mengembalikan harta orang-orang kaya kepada orang-orang yang miskin

Barangkali ada yang mengatakan : Kalau pada waktu itu Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam mengeluarkan da'wah seperti ini, tentulah masyarakat Arab akan terbagi dua : bahagian yang terbesar dengan da'wah yang baru dalam menghadapi tirani uang, kebangsawanan dan kemuliaan dari jumlah orang yang sedikit sekali bersama dengan segala yang diwarisi ini, dan tidak menjadilah seluruh masyarakat Arab berdiri menentang la ilaha illa-llah, yang pada waktu itu baru dapat naik ke horizonnya hanyalah sedikit sekali dari manusia.



Bukankah jika Nabi shollallahu ’alaih wa sallam mengawali da’wah dengan mengibarkan panji Sosialisme-kemasyarakatan beliau bakal mendapat sambutan dan dukungan luas dari kebanyakan bangsa Arab pada masa itu? Sebagian besar mereka berada dalam derita sosial karena kemiskinan. Mereka teraniaya oleh minoritas kalangan borjuis-elite-kaya yang bertingkah semena-mena terhadap kalangan di bawah garis kemiskinan. Tentulah Nabi dan para sahabat tidak akan menerima respon menentang yang keras sebagaimana yang mereka alami karena ”ngotot” hanya mengibarkan bendera La Ilaha ill-Allah. Andai Nabi shollallahu ’alaih wa sallam menitikberatkan da’wah pada problem pertentangan kelas antara kaum borjuis versus kaum proletar, niscaya kebanyakan kaum proletar yang menjadi mayoritas bangsa Arab pasti bersimpati kepada Nabi shollallahu ’alaih wa sallam dan para sahabat. Lalu mengapa Nabi shollallahu ’alaih wa sallam malah memilih mengibarkan bendera La Ilaha ill-Allah? Suatu pilihan yang mengundang resiko bahkan bahaya bagi pengibarnya... Simak terus tulisan Sayyid Quthb berikut ini:



Barangkali ada yang mengatakan : Sebaiknya Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam setelah orang banyak menyambutnya dan menjadikannya pemimpin, dan dengan begitu mengalahkan minoritas dan mudah memimpinnya, baru ia mempergunakan posisinya dan kekuasaannya untuk menanamkan aqidah Tauhid yang dengannya ia diutus Tuhannya, menghambakan manusia kepada kekuasaan Tuhan mereka, setelah ia menghambakan manusia itu kepada kekuasaan manusiawi dirinya sendiri.

Tetapi Allah Yang Maha suci, sedangkan la Mahatahu dan Mahabijaksana, tidak mengarahkannya ke arah ini.

Allah Yang Mahasuci mengetahui bahwa bukan inilah jalannya. Ia mengetahui bahwa keadilan sosial sudah pasti akan timbul dalam masyarakat dari konsepsi kepercayaan yang menyeluruh, di mana semua perkara dikembalikan ke­pada Allah: menerima dengan rela dan loyal keadilan distribusi yang telah diputuskan oleh Allah, jaminan untuk semua orang; dan dengan begitu menjadi tenanglah dalam hati baik yang mengambil maupun yang diambil bahwa ia melaksanakan suatu sistim yang telah diatur oleh Allah, dan dengan menjalankannya dengan loyal, ia mengharap akan mendapat keuntungan dan kebaikan baik di dunia maupun di akhirat. Dengan begitu hati tidak dipenuhi rasa loba, hati tidak dipenuhi rasa dengki. Perkara-perkara tidak semuanya diurus dengan pedang dan tongkat, dengan intimidasi dan teror. Hati tidak seluruhnya hancur dan jiwa tidak tertekan, sebagaimana terdapat dalam situasi yang mempunyai dasar yang lain dari la ilaha illa-llah.



Jadi saudaraku, Nabi shollallahu ’alaih wa sallam tidak pernah sedetikpun berfikiran merebut kekuasaan terlebih dahulu barulah kemudian seruan kalimat La Ilaha ill-Allah dikumandangkan. Beliau sejak hari pertama ingin selalu mengingatkan secara konsisten bahwa misi utama ajaran Islam ialah ”pembebasan manusia dari penghambaan sesama manusia menuju penghambaan kepada Allah semata.”



Selain itu suatu masyarakat yang berfondasi keyakinan Tauhid La Ilaha ill-Allah pasti akan menjadi masyarakat yang ridha atas segenap distribusi pembagian rezeki yang diputuskan Allah. Kalangan yang dilapangkan rezeki akan menjadi para dermawan yang pandai bersyukur lagi gemar berinfak dan membayar zakat karena peduli meringankan beban kaum fakir-miskin. Sedangkan kalangan yang terbatas rezekinya akan menjadi orang-orang yang memelihara kehormatan diri dengan bersabar dan tidak iri terhadap kalangan yang kaya.



أَسْأَلُكَ اللَّهُمَّ الرِّضَا بَعْدَ الْقَضَاءِ وَبَرْدَ الْعَيْشِ بَعْدَ الْمَمَاتِ

وَلَذَّةَ نَظَرٍ إِلَى وَجْهِكَ وَشَوْقًا إِلَى لِقَائِكَ

”Ya Allah, aku memohon keridhaan dalam diriku terhadap segenap keputusanMu, kesejukan hidup sesudah kematianku, kelezatan memandang wajahMu dan kerinduan berjumpa denganMu.” (HR Ahmad 20678)