Revolusi Arab Buka Perbatasan

(Abdul Bari Athwan)Bentrokan berdarah kemarin antara pasukan Israel dengan pemuda pemudi Palestina dan Arab yang bergelombang ke perbatasan Palestina dan perlinatsan Israel di Maron Raas Libanon Selatan dan Migdal di dataran tinggi Golan (Suriah), perlintasan Qalanda Tepi Barat, perlintasan Bethanon di Jalur Gaza (semuanya adalah wilayah perbatasan dengan Israel) terjadi sebagai wujud nyata luapan hak kembali, mengingatkan isu Arab terpenting dan mengingatkan penghinaan terbesar yang selama ini terjadi melukai kehormatan umat Islam dan wibawanya.

Terimakasih kepada revolusi Arab yang memaksa rezim-rezim Arab memberikan izin meluapnya pengunjuk rasa ke perbatasan Palestina yang dikuasai oleh Israel demi mengungkapkan kemarahan dan kecaman mereka terhadap sikap dunia yang diam selama 63 tahun atas kejahatan Israel terhadap bangsa Palestina.

Sungguh indah, kita menyaksikan dataran tinggi Golan bergetar untuk pertama kalinya sejak 40 tahun, bergetar ketika diinjak oleh kaki-kaki penjajah Israel. Lebih indah lagi, kita menyaksikan darah syuhada Suriah yang bersih memeluk tanah airnya sendiri untuk sekali lagi untuk mempertegas kembali kepada umat ini agar jangan pernah lagi melupakan nasib dan hak-hak generasinya.

Sungguh indah juga kita saksikan Libanon Selatan menorehkan peristiwa besar baru dan mempersembahkan 10 syuhada dan sejumlah korban luka pemuda-pemuda mukmin yang tidak gentar oleh perangkat kematian Israel. Ini mengingatkan kita kembali, meski kita tidak pernah lupa, tentang pejuang-pejuang perlawanan Libanon dan Palestina dalam menghadapi penjajah Israel dalam bentuk perlawanan yang paling cemerlang.

Ada yang meyakini bahwa perundingan sia-sia dengan Israel dan rencana perdamaian Tony Blair, kesibukan Otoritas Ramallah meminta-minta gaji pegawainya menyebabkan spirit menyerah pada warganya. Namun bentrokan di perlintasan Qalanda di jantung Tepi Barat menandakan bahwa keyakinan itu tidak pada tempatnya. Api kemarahan masih dalam sekam. Siapapun yang menyaksikan para pemuda telanjang dada menantang penjajah Israel, korban syahid dan luka pun berjatuhan dengan keimanan dan kemurkaan terhadap penjajah, maka dia akan menyimpulkan bahwa bangsa ini tidak akan menyia-nyiakan haknya dan akan melanjutkan perjuangannya hingga di akhir jalan, meski korban sangat banyak.

Kami berharap revolusi pemuda Mesir yang bermula di medan tahrir akan menuju Palestina untuk menyempurnakan tugasnya dan membuat Israel semakin tercekik. Namun mereka memiliki alasan tidak ke Palestina. Mereka sedang dalam perjalanan revolusi yang sulit yang baru terlahir. Pemuda Mesir tidak akan melupakan Palestina sama sekali. Mereka kini sedang menghadapi revolusi tandingan untuk meletuskan perang kelompok untuk mengguncang negeri Mesir yang didukung Israel dan sejumlah negara Arab yang tidak menginginkan Mesir bangkit dari kelatahan. Maka tugas revolusi pemuda Mesir saat ini adalah menyelesaikan peran mereka.

Aksi protes ini adalah terbesar sejak Palestina dijajah, sejak semua wilayah Palestina dijajah. Aksi protes ini adalah luapan hakiki "Hak Kembali" yang tidak bisa gugur dengan mengalah. Anggapan Israel bahwa generasi baru Palestina akan melupakan hak tersebut adalah anggapan pasti gagal.

Saya tidak pernah melihat Israel dalam kondisi gusar, takut dan hysteria seperti yang mereka rasakan kemarin. Pada saat sebelumnya mereka merasa anteng dengan kepercayaan diri tinggi karena kekuatan mereka selama empat atau enam kali perang dengan Arab, kepercayaan diri mereka itu menguap kemarin dan berganti dengan ketakutan dan keresahan. Sebab Israel melihat sendiri mereka yang mengalir di perbatasan Palestina dengan membawa bendera Palestina berlomba-lomba untuk mati syahid terlebih dahulu.

Apa yang akan dilakukan pasukan Israel jika puluhan juta warga Arab dan Palestina mengalir ke perbatasan Palestina, apakah mereka akan menembakkan peluru dan membunuh mereka semua, bahkan dengan bom nuklir?

Revolusi Arab ini telah menyingkirkan rezim korup yang tanpa malu rukuk kepada kaki Israel dan menggelar hubungan normalisasi dengan intruksi Amerika, revolusi yang berkah ini menjadi mukadimah bagi revolusi terbesar untuk mengakhiri kezhaliman dan membebaskan tempat-tempat suci dan menjatuhkan kepongahan Israel dengan berbagai bentuknya.

Di Maron Raas, di Golan, di Tepi Barat dan di Gaza, Israel menambah daftar kejahatan mereka yang berdarah-darah. Kejahatan dan pembantaian itu pasti akan mempendek umur Israel dan mempercepat jalan menuju pembebasan Palestina.

Api revolus Israel mulai menjalar ke pakaian Israel. Revolusi Arab mengembalikan perhatian kepada sumber penyakit dan terror serta instabilitas bukan saja di kawasan namun di dunia seluruhnya. Selama Israel berlaku zhalim, penjajah itu tidak akan aman, termasuk barat yang mendukungnya. Syuhada yang gugur di Maron Raas, Golan dan tempat lainnya memberikan kabar kemenangan semakin dekat. (bsyr,www.infopalestina.com)