Khadafi, Pemilik Saham Juventus dan Fiat

VIVAnews - Moammar Khadafi sukses memimpin kudeta pada 1969 yang menggulingkan Raja Idriss. Sejak saat itu, Khadafi yang dilahirkan gurun Sirte, pada 1942, memimpin Libya. Namun, meski lama memimpin, tidak banyak yang mengetahui berapa kekayaan pemimpin yang dikenal anti-Barat tersebut.


Laman Jewishvirtuallibrary.org melaporkan, setidaknya Khadafi memiliki saham di dua perusahaan Italia, yaitu klub sepak bola Juventus dan perusahaan mobil Fiat.


Pada Januari 2002, Khadafi membeli 7,5 persen saham Juventus melalui Libyan Arab Foreign Investment Company (Lafico). Nilai akuisisi itu mencapai US$21 juta atau sekitar Rp189 miliar.


Jauh sebelumnya, pada 1976, Khadafi berkongsi dengan Fiat. Saat itu, Fiat sedang mengalami masalah keuangan setelah kalah bersaing dengan produsen-produsen mobil global.


Khadafi masuk dengan menanamkan investasi senilai US$415 juta atau sekitar Rp3,7 triliun. Khadafi menguasai 10 persen saham Fiat. Sayangnya, sulit menemukan laporan apakah Khadafi masih menguasai saham-saham itu atau tidak.


Demikian juga dengan bisnis anak-anaknya, juga tidak banyak terekam media. Anak-anak Khadafi lebih banyak berkecimpung di bidang militer dan olahraga. Anak pertama dari istri pertama misalnya, Muhammad Al-Gaddafi (Khadafi) lebih banyak mengurus Komite Olimpiade Libya.


Anak tertua berikutnya dari istri kedua, adalah Saif Al-Islam Muammar Al-Gaddafi, yang lahir pada 1972 merupakan arsitek. Dia lebih banyak menjalankan amal melalui Gaddafi International Foundation for Charity Associations (GIFCA).


Pada 2006, dia meninggalkan Libya dan bekerja di bidang perbankan, dan tidak lama kemudian, dia kembali ke Libya mengkampanyekan program ramah lingkungan.


Anak ketiga, Saadi Gaddafi, menikah dengan putri seorang komandan militer. Saadi menjalankan Federasi Sepakbola Libya serta menangani tim UC Sampdoria di Seri A Italia.

Anak keempatnya, Mutassim Gaddafi, adalah Letnan Kolonel di militer Libya. Dia sekarang menjabat Penasihat Keamanan Nasional. Saif Al-Islam dan Mutassim ini yang dulunya diperkirakan sebagai penerus Khadafi.


Kelima, Hannibal Gaddafi pernah bekerja untuk General National Maritime Transport Company, sebuah perusahaan ekspor minyak Libya. Ia paling terkenal karena terlibat dalam serangkaian insiden kekerasan di Eropa.


Pada 2001, Hannibal menyerang tiga polisi Italia dengan alat pemadam api. Pada September 2004, dia ditahan di Paris setelah mengendarai Porsche dengan kecepatan 144 kilometer per jam pada jalur yang berlawanan arah dan menerjang lampu merah. Hannibal diduga mengendarai mobil dalam keadaan mabuk.


Putra bungsu kedua, adalah Saif Al-Arab dan Khamis, mereka adalah polisi di Libya.


Terakhir, adalah Aisyah al-Gaddafi. Anak perempuan satu-satunya ini memilih jadi pengacara. Dia pernah bergabung dengan tim pembela mantan pemimpin Irak, Saddam Hussein.


Sementara itu, putri adopsinya, Hanna, tewas dalam pemboman April 1986 di rumahnya di Tripoli. Pemboman ini diduga dilakukan militer Amerika Serikat. (art)