Adakah PKS Penjelmaan Ikhwan?

Eramuslim.com-Sesudah terjadi revolusi di Mesir yang menghentakkan masyarakat dunia, berbagai pandangan dan analisis telah muncul di berbagai media. Diantaranya mengkaitkan revolusi di Mesir dengan Jamaah Ikhwan, yang didirikan oleh Hasan al-Banna, tahun 1928. Adakah peranan Jamaah Ikhwan dalam gerakan yang menginginkan perubahan di negeri Spinx itu?



Ikhwan di Mesir di sepanjang sejarahnya telah terlibat secara aktif dalam gerakan dakwah yang inten dengan tujuan ingin menjadikan rakyat Mesir orang-orang yang taat dan komit terhadap nilai-nilai Islam sebagai pedoman hidup mereka. Karena itu, gerakan Ikhwan yang sekarang sudah berkembang di hampir 80 negara itu, terus melanjutkan misinya dengan mendidik masyarakat agar memahami, menerima, dan mengamalkan Islam.



Dalam mewujudkan tujuannya itu, langkah-langkah yang diambil Jamaah Ikhwan, mendidik anggotanya dan masyarakat luas, dimulai dari membentuk pribadi muslim, rumah tangga Islami, masyarakat Islami, pemerintahan Islami, menegakkan khilafah, dan tatanan dunia baru,yang sesuai dengan nilai-nilai Islam. Semuanya dijalankan melalui dakwah. Mengajak dan menyeru semua manusia agar menerima agama (Islam), dengan ihsan dan bijak, dan tanpa tergesa-gesa.




Untuk mencapai tujuannya itu, para pemimpin Ikhwan dengan penuh kesabaran, teliti, dan menghindari untuk tidak terjerumus ke dalam perangkap kekuasaan, yang belum memiliki landasan nilai-nilai Islam yang kokoh. Karena itu, Ikhwan lebih banyak berkecimpung dalam dakwah. Hasan al-Banna sebagai ‘muasis’ (pendiri) Jamaah Ikhwan, menegaskan, keterkaitan Ikhwan dengan masalah politik (siyasah), hanyalah perhatian Ikhwan terhadap masalah-masalah keumatan semata.




Ikhwan yang sangat peduli dengan dakwah telah melahirkan banyak ulama dan para pemikir yang sekarang mempunyai sumbangan yang berharga bagi kehidupan. Seperti Syeikh Yusuf Qardawi (mengarang fiqh zakat), Syeik Mohamad al-Gazali (mengarang shirah Nabawiyah), Syeikh Sayyid Sabiq (fiqh sunnah), Sayyid Qutb (mengarang buku ma’alami fi thoriq dan tafsir fi dzilali Quran), Ramadhan al-Buthi, Ali Audah, Said Hawa (al-Islam), Hasan Turabi, dan sejumlah tokoh lainnya. Generasi baru Ikhwan lebih banyak lagi yang memiliki kemampuan ‘ilmi’ (ilmu). Karena tujuan Jamaah Ikhwan ingin mendidik dan mengajarkan nilai Islam kepada masyarakat secara luas.



Jamaah Ikhwan di berbagai negara berusaha melakukan tranformasi politik, dan kemudian mendirikan partai politik sebagai wasilah (sarana) untuk melakukan perubahan. Seperti di Aljazair ada Partai Hamas, di Yaman Partai Ishlah, di Tunisia Partai an-Nahdah, di Maroko Partai Keadilan, di Yordania Partai Front Aksi Islam, dan beberapa negara Teluk lainnya.




Ikhwan sejatinya selalu berusaha menjauhkan diri dari kekerasan, dan dalam melakukan perubahan memilih jalan yang ihsan dan bijak. Tetapi, Ikhwan tak pernah membiarkan kezaliman dan kebathilan merajalela, dan menyebabkan kaum muslimin terdzalimi oleh para penguasa dan penjajah. Karena itu, Ikhwan dalam tujuan perjuangannya adalah membebaskan negeri-negeri Muslim dari penjajahan.

Adakah PKS Penjelmaan Jamaah Ikhwan?

Sejatinya di Indonesia telah berdiri Jamaah Ikhwanul Muslimin. Menurut Yusuf Supendi, yang pernah menjadi salah satu pendiri PKS itu, menyatakan, Jamaah Ikhwan di Indonesia berdiri pada 11 September 1983.




Sebagai ‘muasis’ (pendirinya) adalah Salim Segaf al Jufri, Abdullah Baharmus, Abdul Syakur (almarhum), dan Hilmi Aminudin. Jamaah Ikhwan di Indonesia menjelma menjadi Partai Keadilan (PK), pada 20 Juli 1998. Usai jatuhnya rezim Orde Baru, terjadinya perubahan yang luas, dan munculnya kekuatan Reformasi, dan Jamaah Ikhwan ikut berkontribusi dalam perubahan di Indonesia.




Tujuannya mendirikan partai, tak lain, untuk berpartisipasi secara aktif bersama dengan komponen bangsa lainnya, khususnya dalam rangka melakukan transformasi kehidupan bangsa, menuju kehidupan yang lebih baik, sesuai dengan prinsip-prinsip dan nilai-nilai Islam.




Perubahan itu dilakukan secara gradual (bertahap), serta berusaha memperbaiki kehidupan masyarakat secara keseluruhan, dan mengajak komponen bangsa ini menjunjung nilia-nilai Islam yang mulia, dan yang sudah ada dalam kehidupan masyarakat luas.




Selanjutnya, Partai Keadilan itu menjelmakan diri menjadi PKS (Partai Keadilan Sejahtera) berdasarkan keputusan Majelis Syuro (MS) ke XIII PKS pada 17 April 2003. Perubahan ini sebagai langkah antisipasi menjaga eksistensi Partai agar tetap dapat berpartisipasi dengan baik, khususnya untuk menghadapi perubahan yang terjadi di Indonesia.




Sejak awal berdirinya partai, Jamaah Ikhwan di Indonesia, menganut prinsip al hizbu huwal jamaah, dan al jamaah hiyal hizbu (partai adalah jamaah, dan jamaah adalah partai).




Berbeda dengan negara-negara lainnya, yang menggunakan prinsip al-hizbu juz’un minal jamaah (partai hanya bagian dari jamaah), seperti yang terjadi di Yordania, di mana Jamaah Ikhwan mendirikan Partai Front Aksi Islam, yang terpisah dengan Jamaah.




PKS sekarang terlibat dalam aktif dalam pemerintah dengan menggunakan prinsip ‘musyarakah’ (koalisi), yang tujuannya bersama dengan berbagai komponen bangsa ingin melakukan perbaikan bagi kehidupan bangsa.





Sekarang, PKS menjadi kekuatan politik keempat terbesar di Indonesia, dan mendapatkan 59 kursi di parlemen. PKS menjadi faktor penting dalam kehidupan politik nasional di Indonesia, dan sudah dua periode masuk dalam Kebinet Indonesia Bersatu (KIB), dan menjadikan Presiden SBY sebagai patron politiknya. (mh)