Pejuang Islam Moro Serang Pos Militer Filipina di Basilan

Basilan, Filina Selatan (Voa-Islam.com) - Kelompok pejuang Islam Moro Kamis (25/11) kemarin menyerang sebuah pos militer di provinsi Basilan Filipina selatan, para pejabat mengatakan.

Para pejabat mengatakan kelompok Front Pembebasan Islam Moro dibawah pimpinan Pasil Bajali melepaskan tembakan ke pos militer di desa Sukaten kota Sumisip, memicu kontak senjata dengan militer Filipina, namun tidak ada korban dari keua belah pihak.

"Sekitar 20 pejuang MILF dibawah pimpinan Pasil Bajali menyerang detasemen Sukaten, kata Kolonel Narciso Dolojan, komandan angkatan darat di basilan, salah satu provinsi dibawah wilayah otonomi Muslim.

Namun laporan lain dari provinsi tersebut menyatakan bahwa beberapa prajurit Filipina dan warga sipil terluka dalam serangan yang bertepatan dengan pertemuan dewan perdamaian dan ketentraman Basilan dan perayaan dari pekan damai di Mindanao dimana para pendukung damai mengadakan pawai diseluruh wilayah bergolak tersebut untuk mengkampanyekan perdamaian.

..laporan lain dari provinsi tersebut menyatakan bahwa beberapa prajurit Filipina dan warga sipil terluka dalam serangan yang bertepatan dengan pertemuan dewan perdamaian dan ketentraman Basilan..

Sementara itu Front Pembebasan Islam Moro (MILF) mengatakan tidak menerima laporan apapun dari para komandannya tentang pertempuran tersebut.

"Kami tidak menerima laporan apapun tentang pertempuran itu, namun ada beberapa kelompk bersenjata di Basilan yang bukan hanya MILF, para penyerang itu bisa jadi kelompok lain, bukan kami," kata Von Al-Haq, juru bicara bagi Front Pembebasan Islam Moro yang berjuang untuk menentukan nasib sendiri di wilayah bermasalah Filipina Selatan.

Pembicaraan damai antara Manila dan kelompok pejuang Moro terbesar di Filipina Selatan (MILF) telah ditangguhkan setelah presiden Gloria Arroyo turun dari jabatannya pada bulan Juni lalu setelah 9 tahun berkuasa, namun pemimpin Filipina yang baru Benigno Aquino bersumpah untuk melanjutkan negosiasi damai tersebut dalam upaya untuk mengakhiri beberapa dekade pertempuran berdarah di Mindanao.

Para pemimpin pejuang Moro berulang kali memperingatkan pemerintah akan adanya lebih banyak pertempuran, jika pembicaraan damai, yang Arroyo buka pada tahun 2001 tersebut, gagal dilaksanakan. (ME)