Gandrung dalam Cerita


Bagi sebagian orang, Gandrung, sejenis Tayub dan Jaipong adalah tontonan “maksiat”. Setidaknya stereotip minuman keras, saweran dan tarian berpasangan dengan goyang pinggul erotis telah lama di lekatkan pada seni yang berasal dari Banyuwangi ini. Namun tidak bagi Siti Astutik, nama lengkap Gandrung Siti, yang menetap di Kedasri, Karangrejo, Rogojampi. Gandrung bukan saja sekedar pekerjaan, melainkan juga sarana persaudaran dan mencari rejeki yang barokah.

Bahkan putrinya, Lia Novitasari 15 tahun, buah perkawinannya dengan Sutomo, sejak tiga tahun yang lalu telah menjalani profesi gandrung mengikuti jejaknya.“Sedari kecil kami telah melatih Lia menari gandrung, bapaknya yang mengiringi musik melalui suara mulut,” begitu aku Siti yang sejak tahun 1974 sudah terjun ke dalam seni tradisi Banyuwangi. “Kami berharap, anak kami bisa meneruskan profesi ini dan melestarikan seni Banyuwangi, siapa lagi kalau bukan dia,” imbuh Siti tentang putri tunggalnya. Siti tidak begitu risau ketika orang mengatakan gandrung itu maksiat, menarikannya saja sudah mengundang setan apalagi suara musiknya. “Kalau gandrung sering di bilang maksiat, kenapa kok para Kyai itu mengajak kami pentas?” tanya balik Siti sembari mengungkapkan dirinya sering di undang mementaskan gandrung di pondok pesantren di daerahnya.
Lahir sebagai anak pertama dari empat saudara keluarga perantuan asal Malang, Siti sejak sekolah dasar belajar mandiri dan membantu orang tua. “Saya sudah mulai belajar gandrung sejak SD, biasanya kalau hari libur saya diantar Bapak belajar gandrung di Gambiran,” kenang Siti yang bapaknya penggemar wayang. Uang hasil pentasnya, sebagian untuk membantu sekolah adiknya hingga menjadi guru agama yang kini menetap di Papua.
Siti dinikahi Sutomo, seorang sopir sekaligus penggemar seni. Bersama Sutomo, Siti mendirikan grup “Mekar Arum” yang sampai sekarang terus pentas dan menjadi sarana mendidik kader gandrung yang baru. “Biasanya, ketika Gandrung mempunyai suami mereka berhenti gandrung,” tambah Siti yang sampai sekarang telah membina enam penari menjadi gandrung terop, istilah lain gandrung profesional.
***
Awal tahun 90-an Siti yang baru saja menikah dengan Sutomo, merasa jengkel, pasalnya Siti sering sekali diundang oleh pemerintah daerah untuk pentas di berbagai daerah. Ternyata kepandaiannya menyanyikan syair gandrung saja yang diambil sebagai pengiring tarian gandrung binaan pemerintah daerah. Dari pengalaman itu, Siti dan Sutomo memutuskan untuk membuat grup dan mempunyai alat-alat musik sendiri. “Biar kami tidak selalu dimanfaatkan ketika diperlukan” aku mereka.
Dari grup “Mekar Arum” yang mereka dirikan, Siti dan Sutomo akhirnya melanglang buana ke berbagai penjuru Nusantara. Bahkan Abah Syarif, pemimpin Pondok Pesantren Nurul Huda, Surakarta, selama tujuh tahun belakangan ini selalu mementaskan grup gandrungnya untuk memperingati milad mereka. Tidak hanya itu, Siti dan Sutomo bisa menabung dan mendirikan rumah dengan bengkel sekaligus toko kelontong di kampungnya. “Rumah ini hasil kami mentas selama sembilan bulan di daerah Sukamaju, Luwu, Sulawesi Selatan,” ungkap Sutomo. “Kalau di hitung memakai hitungan uang sekarang, kira-kira kami berhasil menyisihkan uang sampai 75 juta rupiah selama pentas di Sulawesi itu,” kenang Siti.
“Yang paling membuat trenyuh sampai sekarang, adalah ungkapan Abah Syarif yang selalu mengingatkan saya untuk menguri-uri gandrung, meski saya sudah tua, gandrung itu seni yang baik, pondok akan selalu mementaskan gandrung,” kenang Siti tentang pujian orang daerah lain ketika melihat pentas gandrung. “Bahkan orang Bali saja heran, kok bisa gandrung itu kalau di paju, ibing, malah geraknya mundur, hingga tidak bisa di peluk dan di cium, ini kan beda dengan seni lain,” imbuh Siti.
***
Diusianya yang ke-48 tahun ini, ada beberapa kegelisahan diri yang ingin segera di dengarkan. “Saya sering bertanya dalam hati, kenapa kok gandrung tari yang di uri-uri bukan gandrung yang asli (gandrung yang mengikuti pakem, jejer, paju, dan seblang-seblang). Saya ini jadi orang nrimo,”sesal Siti melihat perkembangan seni Gandrung Banyuwangi. Sebuah kekecewaan yang sebenarnya umum terdengar di kalangan pelaku seni tradisi Banyuwangi, terlepas tudingan iri terhadap Imageseni gandrung tari hasil kreasi dan teknokrasi pemerintah kabupaten melalui aparat seninya.
Di rumahnya yang kecil, akhirnya, Siti bersama suami tidak pernah lelah untuk membina dan mengahasilkan generasi gandrung baru. “Kami setidaknya habis lima puluh ribu rupiah setiap latihan, itu untuk mengganti uang bensin dan makanan para panjak,” terang Siti.“Kalau Mbok Temu, Pak Ikhsan dan kami tidak mau lagi melatih gandrung, mungkin gandrung akan punah” imbuh Tomo dan Siti.Seperti pengharapan gambaran hidup yang indah, untuk diraih dalam salah satu syair gandrung, “Kembang pepe mrambat ring kayu arum, sang arum mambat mayun, sang pepe ngajak lunga mbok penganten karyo dalu ngenjot-ngenjot lakune.

desantara.org

Kesenian Tradisional Praburoro


Praburoro adalah suatu bentuk drama tari yang lakon-lakonnya bersumber dari hikayat Amir Hamzah yang membawakan cerita-cerita dari Tanah Persi yang masuk ke Indonesia bersama dengan masuknya kebudayaan Islam ke Indonesia. Jenis kesenian ini disebut Praburoro karena sering membawakan lakon dengan tokoh Roro Rengganis yang arenanya disebut Praburoro. Kesenian ini dimainkan oleh 40-50 orang dalam 3 grup dengan diiringi gamelan Jawa bernad slendro. Beberapa ciri dari kesenian Praburoro ini antara lain; gerak tarinya termasuk tari Jawa. Busananya wayang orang.

Gamelan pengiringnya adalah gamelan jawa lengkap bernana slendro. Gending yang mengiringi Gending Jawa atau Gending-gending Blambangan. Pementasan Praburoro ini biasanya mengunakan lakon menaklukkan negara yang dianggap bukan Islam. Dalam bagian akhir cerita ditutup dengan adegan "Sunatan", yaitu semacam peragaan khitanan yang dilakukan atas raja-raja yang sudah ditaklukkan oleh Menak Agung Jayengrono dengan Umarmoyo

Utsawa Kidung Jawa Pestanya Sinden Hindu


KESENIAN tidak bisa dilepaskan dari kegiatan ritual Hindu, juga di Banyuwangi. Sebagai penganut budaya Jawa, umat Hindu di ujung timur Jawa Timur ini tidak pernah meninggalkan tradisi warisan leluhur ketika melaksanakan kegiatan keagamaan. Misalnya, kebiasaan melantunkan gending Jawa. Membaca kitab suci pun tetap menggunakan gending dan bahasa Jawa.

Tradisi turun-temurun inilah yang melahirkan banyak sinden (penyanyi Jawa) di Banyuwangi. Rata-rata sinden berangkat dari seni gending Jawa. Banyak sinden dari kalangan penganut Hindu. Kenyataan ini turut membuat tradisi Jawa tetap lestari, mengingat budaya Jawa tumbuh seiring kegiatan ritual yang tiada henti.

Sayangnya, belum ada wadah khusus untuk menampung para sinden di kalangan umat Hindu. Mereka berkreasi secara terbatas dengan bergabung dalam kelompok karawitan Jawa.

Ancaman punahnya tradisi sinden ini menggugah para petinggi Hindu Banyuwangi untuk bergerak. Salah satu upayanya menggelar pesta sinden dalam utsawa kidung Jawa yakni lomba melantunkan gending-gending Jawa bermuatan ajaran Hindu. Festival yang baru pertama kali terselenggara ini disambut antusias ratusan sinden yang tersebar di 14 kecamatan di Banyuwangi.

Biasanya, utsawa cenderung melantunkan kidung Bali. Padahal, hampir 90% penganut Hindu di Banyuwangi suku Jawa. Utsawa kidung Jawa ini mendapat dukungan luas, termasuk dari Pemkab Banyuwangi dan Dewan Kesenian Blambangan.

Utsawa kidung Jawa yang berlangsung di wantilan Kampung Bali, Kota Banyuwangi ini, menjawab kerinduan para sinden yang memerlukan pengakuan tentang keberadaannya. Selama ini mereka hanya makidung dari pura ke pura. Hanya beberapa orang yang berkesempatan manggung di depan masyarakat luas.

Layaknya kontes penyanyi, para sinden juga menyiapkan atribut dengan matang, dari kostum hingga nada yang akan digunakan. Sinden tak pernah lepas dengan busana Jawa, kebaya dan kain panjang serta sanggul besar.

Lomba digelar berkelompok. Masing-masing kecamatan mengirim satu regu. Satu regu karawitan disiapkan mengiringi lantunan gending yang dilombakan. Di Kampung Bali ratusan sinden berjalan berlenggang-lenggok menuju panggung diiringi suara gamelan Jawa.

Ada tiga gending (lagu) yang wajib dilantunkan. Peserta wajib membaca kitab Bagawaghita dan Sarascamuscaya menggunakan langgam dan bahasa Jawa. Kemudian disusul melantunkan gending Jawa sebagai lagu penutup. Masing-masing regu membutuhkan waktu 10-15 menit.

Dewan juri terdiri atas pakar kidung Jawa di Banyuwangi, yakni praktisi seni dan dalang senior. Yang dinilai, penampilan, keserasian, ekspresi, irama, dan pengucapan gending. Cengkok (irama) yang digunakan jenis mas kumambang, sedangkan pembaca sloka suci atau palawakya menggunakan bahasa Jawa. Jenis kidung menggunakan bowo dilanjutkan dengan ketawang kinanti. Semua liriknya bermuatan ajaran Hindu.

Utsawa kidung Jawa digelar untuk melestarikan tradisi dan budaya Jawa, sekaligus sebagai tonggak bangkitnya budaya Hindu Jawa di Banyuwangi. Umat Hindu di sini mayoritas suku Jawa. Karena itu Parisada Hindu Dharma Indonesia membuat kebijakan untuk melestarikan budaya Jawa lewat lomba kidung, kata Ketua PHDI Kabupaten Banyuwangi I Wayan Artha.

Jumlah umat Hindu di Banyuwangi sekarang ini sekitar 40.000 jiwa.
Direncanakan utsawa kidung Jawa akan menjadi agenda tahunan. Penyelenggaraannya dikaitkan dengan perayaan hari jadi Kota Banyuwangi. - udi

Sinden Kabur Karawitan Masuk Pura

AKIBAT terbentur masalah ekonomi rumah tangga, banyak sinden di Banyuwangi beralih menjadi tenaga kerja wanita (TKW) yang bekerja di luar negeri. Honor sinden sangat sedikit. Sinden muda yang berbakat harus pergi dan tidak selalu ada penggantinya. Sepulang dari luar negeri, banyak sinden yang enggan manggung lagi.

Menyusutnya jumlah sinden dikeluhkan Sumini (50), Ketua Paguyuban Karawitan Wanita Hindu dari Desa Sambirejo, Kecamatan Bangorejo, Banyuwangi. “Setelah bersusah payah membuat paguyuban, akhirnya banyak sinden kabur ke luar negeri,” ujarnya.

Kelompok karawitan yang diberi nama Dharma Marga ini terbentuk tahun 1996, awalnya memiliki 11 penabuh wanita dan enam sinden. Selain sebagian anggotanya memilih bekerja di luar negeri, ada juga, terutama sinden, yang berhenti setelah berkeluarga.

Mencari sinden baru tidak gampang. Banyak remaja yang merasa tidak bangga berprofesi sebagai sinden. Kini yang tersisa hanyalah sinden tua.
Awalnya Sumini optimis bisa merangkul kaum ibu dan remaja untuk melestarikan kesenian Jawa. Langkah yang ditempuhnya membawa seni karawitan masuk pura.

Tiap ritual keagamaan Hindu diselingi gending dan gamelan Jawa. Langkah ini mendapat respons positif kaum ibu. Akhirnya terbentukah Paguyuban Karawitan Wanita Hindu.

Sayang, di tengah perjalanan, para ibu mulai kendor. Padahal, peralatan sudah tersedia lengkap. Harganya tidak murah. Di Banyuwangi satu set gamelan Rp 20-30 juta.

Namun, Sumini tak patah arang. Bersama suaminya, Sutrisno, seorang pemangku pura, dia terus berjuang merekrut remaja untuk belajar gending Jawa. Upaya ini membuahkan hasil. Beberapa remaja tertarik belajar gamelan dan kidung Jawa. Para ibu yang tersisa juga diaktifkan kembali.

Alhasil, karawitan yang sempat mati suri ini bangkit lagi. Undangan manggung pun mengalir, terutama dari kalangan umat Hindu. Karawitan ini selalu diundang saat berlangsung kegiatan piodalan di pura.

Untuk memberi semangat anggota, honor yang didapat dibagi secara terbuka. Uang jasa tanggapan dimasukkan ke kas perkumpulan. Jika banyak, biasanya sebagian dibelikan baju seragam. Sisanya dipakai biaya kegiatan tirtayatra.

Sebagai pemimpin grup kesenian, Sumini harus rela berkorban, bahkan bersedia tidak mendapat bayaran. Yang penting saya bisa melayani umat, katanya. Darah seni yang mengalir dari leluhurnya menjadikan Sumini tegar untuk terus melestarikan budaya Jawa sejak pertama berkecimpung dalam kegiatan ini tahun 1978. - udi

Semalam Suntuk Rp 100 Ribu

MENJADI sinden harus siap berkorban. Honor yang diterima tak sebanding dengan tenaga yang dikeluarkan. Namun, berkat motivasi seni yang tinggi, banyak wanita yang tetap melakoni profesi itu. Sebagaimana Diah Palupi (39), sinden asal Desa Sambirejo, Kecamatan Bangorejo, Banyuwangi.

Sinden bukan pekerjaan, tetapi hanya tempat menyalurkan hobi, ujarnya. Dalam sekali manggung, Diah, panggilan akrabnya, dibayar Rp 100 ribu. Padahal ketika manggung, seorang sinden harus begadang semalam suntuk. Selama itu, dia harus bernyayi dengan nada tinggi. Ada 300 gending yang bisa dipilih.

Sebelum menjadi sinden, Diah adalah penganut Hindu yang taat. Dari sinilah keberuntungan itu muncul. Dia selalu rajin melantunkan kidung Jawa ketika ada persembahyangan di pura. Suaranya yang merdu akhirnya dilirik para dalang kondang di Banyuwangi.

Hobi yang dilakoni sejak muda ini diwarisi dari keluarganya. Sejak tahun 2000, dia akhirnya dilamar untuk bergabung dengan dua dalang wayang kulit kondang di Banyuwangi, Ki Sarjono dan Ki Juwito Gendeng. Sejak itulah namanya terus melejit dan pesanan manggung selalu mengalir.

Bekerja di bidang kesenian juga memerlukan pengertian keluarga. Beruntung, Diah memiliki pasangan yang juga penggemar kesenian. Suaminya itu calon dalang. Ketika Diah manggung, suaminya selalu mengantarnya.

Diah berharap banyak remaja mau belajar seni olah vocal ini. Selama ini, banyak sinden mewarisi keterampilan dari garis keturunan. Padahal, kata Diah, keterampilan sinden bisa dipelajari.

Dalam kesenian Jawa dikenal dua jenis laras, pelog dan slendro. Dua laras dasar inilah yang berkembang menjadi ratusan gending Jawa. Gamelan Jawa biasanya terdiri atas 12 jenis.

Satu set gemelan Jawa mampu membangkitkan semangat religi ketika digabung dengan gending Jawa bermuatan ajaran agama. Inilah yang menguatkan sinden untuk terus berkreasi. Ada warna rohani di dalamnya, kata Diah.

Pemkab Banyuwangi Akan Patenkan Hasil Kesenian


Kesenian Banyuwangi yang beragam jenisnya akan segera diurus hak patennya oleh pemerintah kabupaten (pemkab) setempat, yang tidak ingin kesenian Blambangan yang sudah berusia ratusan tahun diakui negara lain.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Banyuwangi, Hadi Sucipto, mengatakan bahwa selain kekayaan panorama alam, potensi kesenian Banyuwangi yang cukup besar dapat menarik wisatawan untuk mendatangi Bumi Blambangan itu.

"Kesenian yang ada perlu dilestarikan dan akan diurus patennya di Hak Kekayaan Intelektual (HaKI). Kesenian yang dimiliki Banyuwangi di nya tari gandrung, janger, seblang, patrol, hadrah kuntulan, kebo-keboan, jaranan butho, angklung carok, macopatan lontar Yusuf, dan patrol," katanya, Selasa.

"Kalau tidak segera diurus, bisa-bisa kesenian asal Banyuwangi diakui oleh negara lain. Beberapa motif ukiran Bali juga diklaim oleh orang asing," katanya.

Hadi mengemukakan, saat ini pemkab bersama sejumlah budayawan sedang membahas kesenian Banyuwangi yang perlu diurus hak patennya. Langkah yang dilakukan pada 2009 mulai mendata kesenian yang ada di Banyuwangi.

Budayawan yang dilibatkan dalam penulisan kesenian Banyuwangi, lain Sahuni dan Sumitro Hadi. Mereka akan dibantu Mas Momok, seniman Using yang piawai mencermati gerak dasar tarian Banyuwangi.

"Budayawan akan menulis buku tentang kesenian Banyuwangi. Diperkirakan tokoh budaya selesai menulis buku pada semester pertama. Kemudian pada semester kedua, Pemkab dan budayawan mengadakan seminar kesenian Banyuwangi," katanya menambahkan. (*)

MUSEUM BLAMBANGAN DULU, KINI DAN AKAN DATANG


A. Purwa Wacana

Seperti dikatakan oleh Winarsih PA, bahwa kerajaan Blambangan adalah kerajaan yang semasa dengan kerajaan Majapahit bahkan dua abad lebih panjang umurnya. Hal ini sering tidak disadari oleh para ahli sejarah. Ini terbukti dari sedikitnya perhatian terhadap sejarah Blambangan. Empat abad perjalanan sejarah Blambangan tentu tak mungkin tidak meninggalkan jejak. Walau disadari, sejak awal berdirinya, kerajaan Blambangan selalu dilanda peperangan yang seolah tak ada hentinya. Kondisi politik yang labil memang memungkinkan kita menyadari dan hawatir bahwa tidak banyak peninggalan sejarah Blambangan yang dapat kita temukan. Namun dari beberapa data sejarah dan situs-situs yang ditemukan menunjukkan di Banyuwangi banyak terdapat peninggalan sejarah yang sangat berharga.

Laporan Wikkerman pada tahun 1805 misalnya menyampaikan bahwa di Desa Macanputih pada masa itu masih kelihatan bekas tembok dari batu bata tebal dengan tinggi 12 kaki ( 3,6 m ) dan tebal 6 kaki ( 1,8 m) serta gang dan pagar mengelilinginya sepanjang 4,5 km, yang dilengkapi dengan sebuah lorong dan tempat pertahanan dengan ukuran panjang keliling 4,5 km (Lekkerkerker, 1923).

Pada tahun 1929, Hermes, seorang Kepala Holland School (HIS) di Banyuwangi mengirimkan hasil temuan benda-benda arkeologi dari bahan terracotta berupa dua bentuk arca binatang kecil (seekor kera dan seekor singa berdiri tegak) kepada Oudheidkundige Dienst (Dinas Purbakala) di Jakarta. Terracotta tersebut di temukan oleh petugas pengairan di Desa Blambangan.

Di desa Tembokrejo Muncar terdapat situs Umpak Songo yang merupakan bagian dari situs Tembokrejo yang dibatasi oleh tembok keliling dari bahan batu karang yang luasnya sekitar 500 hektar. Di situs ini ditemukan umpak batu berjumlah 49 buah, fitur susunan fondasi dari bata, artefak berupa fragmen gerabah dan fragmen keramik asing yang kebanyakan dari Cina yaitu tiga buah keramik dinasti Sung abad XIII, lima keramik dari dinasti Yuan abad XIV, 18 buah keramik dinasti Ming abad XIV, XV dan XVI, 34 buah keramik dari dinasti Ch’ing abad XIX dan 4 buah keramik Eropa abad XIX dan masih banyak lain fragmen keramik dari Thailand dll. Ditemukan juga situs Gumuk Jadah di dusun Palurejo dengan 8 buah umpak batu sebagai penyangga tiang bangunan masa lalu. Sedangkan situs prasejarah berupa puluhan gua ditemukan di Alas Purwo dan situs candi bentar masa akhir Majapahit yang oleh masyarakat setempat dinamakan Pura Luhur Trianggulasi (Nawawi, Abdul Kholiq, 1993).

Beberpa bulan yang lalau tim Balai Arkeologi Yogja menyampaikan laporan penelitiannya selama satu bulan di daerah Kandanglembu Glenmore yang menemukan situs prasejarah berupa pemukiman penduduk jaman neolitikum. Dan masih banyak lagi yang bisa kita sebutkan yang semuanya menunjukkan bahwa di Banyuwangi sangat kaya akan peninggalan sejarah.

B. Peranan Museum Blambangan

Kesadaran akan kekayaan sejarah inilah yang kemudian mendorong dibentuknya Tim Permuseuman pada tahun 1974 yang bertugas menggali, menemukan, mendata, mengumpulkan peninggalan sejarah yang ada di Banyuwangi. Anggota tim tersebut yaitu; Bapak Supranoto, Ridwan, BA, Gede Ari Subrata, Guntur Adi, K. Sarjono, Suhendar, Hasan Ali, Hasnan Singodimayan. Tim ini sempat mengadakan ekspedisi Alas Purwo sebanyak dua kali. Dari hasil kerja tim ditemukan berbagai jenis koleksi benda bersejarah yang kemudian dikumpulkan di ruang belakang pendopo bupati.

Guna menampung dan memelihara benda-benda hasil temuan tersebut, dibangun museum di sebelah tenggara pendopo bupati disebuah tempat yang jaman dulu merupakan tempat ruang tunggu para tamu Bupati ketika akan menghadap. Nama resminya adalah Museum Daerah Blambangan Kabupaten Dati II Banyuwangi. Pada waktu itu Badan Pengelolanya adalah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Banyuwangi cq. Seksi Kebudayaan bersama pemerintah Daerah Tingkat II Banyuwangi yang tergabung dalam Tim Pembina Museum Daerah Blambangan Banyuwangi dengan Surat keputusan Bupati Kepala Daerah Tingkat II Banyuwangi. Pada tanggal 25 Desember 1977 Museum Blamabangan diresmikan oleh Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Jawa Timur, Bapak Soenandar Priyosoedarmo. Pada saat itu Museum Blambangan merupakan satu diantara 13 museum yang ada di Jawa Timur.

Sampai saat ini ketika lokasinya dijadikan satu dengan kantor Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, koleksi Museum Blambangan sebagai berikut:

NO.


BAHAN


JUMLAH

(buah)

1.


BATU


64

2.


PERUNGGU


12

3.


BESI


17

4.


KAYU


19

5.


LOGAM


49

6.


KERTAS


45

7.


KAIN


35

8.


TANAH LIAT (SANDSTONE)


45

9.


KALSEDON


1

10.


KAOLIN


16

11.


STONEWARE


1

12.


PORSELIN


39

13.


KUNINGAN


31

14.


SEMEN


2

15.


TEMBIKAR


2

16.


KULIT


112

17.


FIBER


2

18.


BELING


1

19.


DAUN


1






JUMLAH


495







Kalau dilihat dari sudut disiplin ilmu sebagai berikut:

No.


Sub Disiplin Ilmu dari Benda Koleksi


JUMLAH

(buah)

1.

GEOLOGIKA/GEOGRAFIKA


-

2.

BIOLOGIKA


-

3.

ETNOGRAFIKA


196

4.

ARKEOLOGIKA


134

5.

HISTORIKA


16

6.

NUMISMATIKA


62

7.

FILOLOGIKA


3

8.

KERAMOLOGIKA


73

9.

KOLEKSI SENI RUPA


6

10.

TEHNOLOGIKA/MODERN


5





JUMLAH


495



Keberadaan Museum Blambangan sampai saat ini sangat membantu masyarakat untuk mengetahui peninggalan sejarah di Banyuwangi, terutama bagi pelajar. Namun untuk keperluan masa mendatang, Pemerintah harus memberikan perhatian lebih, mengingat peranan museum ke depan tidak sekedar menjadi tempat penyimpanan benda bersejarah, lebih dari itu museum adalah media pengembangan ilmu pengetahuan. Perhatian pemerintah dalam meningkatkan peran museum sangat penting dalam rangka mengubah image bahwa museum adalah gedung tempat menyimpan benda-benda antik/kuno saja. Sehingga orang mengunjungi museum cukup sakali seumur hidupnya.

Padahal pengertian museum secara umum adalah bangunan yang di dalamnya disajikan (dipamerkan) benda-benda yang menggambarkan perkembangan kesenian dan ilmu pengetahuan serta tata masyarakat untuk tujuan pendidikan. Sedang dalam ICOM (International Council of Museum) dijelaskan bahwa museum adalah lembaga yang bersifat tetap, tidak mencari keuntungan yang dalam melayani serta perkembangannya terbuka untuk umum dan bertugas mengumpulkan, merawat, meneliti, mengkaji, mengkomunikasikan, serta memamerkan bukti-bukti material manusia dan lingkunganna untuk tujuan studi, pendidikan dan rekreasi. Menurut Peraturan Pemerintah nomor 19 tahun 1995 tentang Pemeliharaan dan Pemanfaatan Benda-Benda cagar Budaya di Museum menjelaskan bahwa Museum adalah lembaga, tempat penyimpanan, perawatan, pengamanan dan pemanfaatan benda-benda bukti material hasil budaya menusia serta alam dan lingkunganna guna menunjang upaya perlindungan dan pelestarian kekayaan budaya bangsa (Mukti, Abdul, 2003).

Bertitik tolak dari rumusan ICOM, maka Museum Blambangan ke depan harus memiliki fungsi:

1. Mengumpulkan dan mengamankan warisan alam dan budaya.

2. Dokumentasi dari penelitian ilmiah.

3. Media konservasi dan preparasi.

4. Penyebaran dan pemerataan ilmu untuk umum.

5. Pengenalan dan penghayatan kesenian, khususnya kesenian Banyuwangi.

6. Pengenalan kebudayaan Banyuwangi, sukur-sukur kebudayaan antar daerah dan bangsa.

7. Visualisasi warisan alam dan budaya.

8. Cermin pertumbuhan peradaban umat manusia.

9. Pembangkit rasa taqwa dan bersyukur kepada Tuhan YME.

Sedangkan peranannya adalah:

1. Sebagai pusat dokumentasi dan penelitian ilmiah.

2. Sebagai pusat pennyaluran ilmu pengetahuan.

3. Sebagai pusat penghayatan apresiasi budaya.

4. Sebagai sumber inspirasi.

5. Sebagai obyek pariwisata.

6. Sebagai media pembina pendidikan sejarah, sains dan budaya.

7. Sebagai wahana penelitian dan pendidikan budaya serta pengenalan pemahaman mengenai jati diri bangsa terutama bagai generasi muda.



Melihat fungsi dan peran museum di atas, Museum Blambangan sangat potensial memposisikan dirinya menjadi sentral dari upaya pengembangan ilmu pengetahuan dan seni budaya di Banyuwangi. Dengan koleksinya yang sekarang dimiliki, sudah menjadi titik awal menjadikan posisinya yang ideal. Tinggal keseriusan semua pihak terutama sekali lagi pemerintah untuk serius mempersiapkan segala sesuatunya. Mulai dari bangunan fisik yang representatif, tenaga permuseuman yang profesional yang terdiri dari : kurator, konservator dan restorator, ahli tata rupa dan tata ruang, ahli media dan komunikasi, sampai menejemennya.

Dalam rangka mewujudkan museum sebagai tempat rekreasi, museum harus dapat tampil menarik. Memiliki ruang yang luas, taman bermain, perpustakaan, kantin dan seterusnya. Museum Blambangan juga harus dapat memberikan gambaran yang jelas tentang perkembangan kebudayaan di Banyuwangi kepada pengunjung. Museum Blambangan juga harus mampu menumbuhkan rasa bangga terhadap perkembangan kebudayaan kepada masyarakat pengunjungnya, sehingga tumbuh rasa ikut memiliki dan bertanggung jawab serta memeliharanya.

Segala usaha untuk meningkatkan peran museum Blambangan tersebut hanya akan berhasil apabila dilandasi oleh semangat dan kecintaan terhadap ilmu pengetahuan bumi Blambangan.



Berikut ini beberapa koleksi Museum Blambangan:



Tempayan

Bahan: Kaolin

Diperkirakan berasal dari Cina selatan abad XVII-XIX. Tempayan ini berfungsi sebagai wadah obat atau juga dipakai untuk tempat minyak.



Piring

Bahan : Porselin

Diperkirakan berasal dari Guangdong Cina selatan abad XVIII-XX. Fungsi : untuk tempat makanan.







ARCA KOERA

Bahan: perunggu

Arca ini berasal dari Desa Kajarharjo Kecamatan Kalibaru. Arca ini berwarna hitam dengan patinasi warna hijau dan coklat pada permukaan arca.

GELANG / BINGGEL



Bahan: Perunggu

Bentuk dasar silindrik dengan dua sisi tidak sama besar, dibuat membulat dengan ujungnya tidak bertemu dan warna kuning kehitaman. Benda ini jika dikenakan pada lengan dinamakan kelat bahu, jika dikenakan pada kaki dinamakan Binggel dan digunakan pada saat upacara keagamaan.



LONTAR



Bahan: daun lontar

Lontar ini berasal dari desa Gambor Kec. Singojuruh. Terdiri dari 103 lembar, bagian luar terbuat dari kayu, tulisan menggunakan huruf Jawa baru yang berisi tentang cerita rakyat.



NASKAH KUNO

Bahan: kertas

Kitab bertuliskan huruf arab dengan bahasa Jawa dengan tulisan tangan berhuruf dan berbahasa arab. Berisi tentang ajaran-ajaran agama islam. Dengan jumlah tulisan sebanyak 15 baris, warna tulisan merah dan hitam. Sedangkan jumlah halaman sebanyak 137 lembar.





STUPIKA

Bahan: Tanah liat

Berasal dari desa Gumuk Klinting Kecamatan Muncar. Bentuk silinder dasar setengah bulat, badan berbentuk kubah (setengah lingkaran). Stupika merupakan miniatur dari stupa (bentuk bangunan suci agama budha). Digunakan sebagai sarana upacara keagamaan dalam agama budha kuno.



BATA BERELIEF

Bahan: Bata

Bata ini merupakan bagian dari komponen bangunan yang memiliki hiasan atas relief tertentu dan merupakan peninggalan kerajaan Blambangan di Macan Putih. Berbentuk balok, salah satu sisi panjangnya berhias sulur-suluran, yang lainnya polos. Permukaan tidak rata, warna merah bata.





MOKO



Bahan: perunggu

Berasal dari desa Sumbersalak Kecamatan Kalibaru. Moko ini menyerupai gendang kecil yang berfungsi sebagai sarana upacara minta hujan atau juga berfungsi sebagai mas kawin.





BATU GONG



Bahan : Batu Andesit

Asal : Desa Wonosobo Kecamatan Srono.

Berbentuk silindrik, bagian atas dan bawah datar, warna hitam.

Batu ini berfungsi sebagai umpak tiang suatu bangunan.



BATU KENONG



Bahan : Batu Andesit

Asal : Desa Truko Kecamatan Genteng

Berbentuk silindrik , kedua permukaan atas dan bawah datar, pada salah satu permukaan datarnya terdapat tonjolan, dinding mengembang keluar.

Batu Kenong ini berfungsi sebagai umpak tiang suatu bangunan tetapi tengahnya dilubangi.





ARCA KEPALA NAGA



Bahan : Batu Vulkanik

Asal : Desa Wijenan Kecamatan Singojuruh.

Berbentuk bulat, terlihat bagian kepala,mata, mulut, semuanya telah aus. Warna hitam.





WADAH AIR



Bahan : Tanah liat

Asal : Desa Tembokrejo, Kecamatan Muncar

Wadah ini lengkap dengan tutup. Bagian badan atas dihiasi tonjolan melingkar yaitu ,motif awan dan bentuk bibir lebar. Wadah ini jika ditutup hiasannya bersusun 3 dan wadah-wadah semacam ini banyak ditemukan pada masa kerajaan Majapahit.



LAMPU KAMBANG



Bahan : Perunggu

Asal : Kecamatan Glenmore

Bentuk segi empat, bersumbu empat dan biasanya bahan bakarnya minyak kelapa.









DAFTAR KEPUSTAKAAN



1. Arifin, Winarsih Patraningrat, Babad Blambangan. Yogyakarta, Bentang, 1995.

2. Bagian Proyek Pembinaan Permuseuman Jatim, Museum Blambangan, Surabaya, 1992.

3. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Museum Blambangan, 2008

4. Himawan, Manajemen Pengelola Museum Harapan dan Tantangan, Dinas Pendidikan Dan Kebudayaan Jatim, 2003.

5. Lekkerkerker, C, Balambangan. Indische Gids. 1923 : 1030-1067.

6. Mukti, Abdul, S.Sos, Pengetahuan Dasar Permuseuman, Dinas Pendidikan Dan Kebudayaan Jatim, 2003.

7. Nawawi, Abdul Choliq, Sejarah Blambangan di Banyuwangi sekitar Abad XV-XVIII, Makalah Seminar Sejarah Blambangan, 9 November 1993.

Legenda Asal Usul Gandrung Banyuwangi

Pada suatu penyelenggaraan upacara di Istana Majapahit, sering dipentaskan suatu bentuk tarian istana yang dikenal dengan istilah “Juru Angin” Angin yaitu seorang wanita menari sambil menyanyi dengan sangat menarik. Penari tersebut diikuti oleh seorang “Buyut” yaitu seorang pria tua berfungsi sebagai punokawan penari Juru Angin tersebut.
Bentuk tarian inilah yang mungkin sebagai prototype suatu bentuk kesenian yang sekarang dikenal dengan “Gandrung”. Hal ini dapat diasumsikan dari bentuk penampilan penari
Gandrung yang selalu diikuti oleh seorang pemain Kluncing atau lebih dikenal sebagai pengudang. Pengudang ini selalu memberikan lawakan­-lawakan sehubungan dengan tarian yang dibawakan oleh penari Gandrung. Sebagaimana dimaklumi bahwa pada jaman kehidupan kerajaan-kerajaan maka daerah yang jauh dari pusat kerajaan, perkembangan seni budayanya mengikuti pola seni budaya pusat. Dalam masa perkembangannya sampai tahun 1890 di daerah Blambangan berkembang bentuk kesenian Gandrung yang penarinya terdiri dari anak laki-laki berumur antara 7 sampai 16 tahun berperan sebagai penari gandrung dengan berpakaian wanita. Pementasan seni gandrung laki-laki pada masa itu dilakukan dengan jalan keliling desa-desa kemudian penari tersebut mendapatkan mantra. Gamelan pengiringnya terdiri dari gendang, kethuk, biola, gong dan kluncing. Penari gandrung laki-laki yang lain hanya mampu bertahan sampai 40. tahun

dan memilih sebagai penari gandrung sampai akhir hayatnya. Pemilihan partner penarinya dilakukan dengan melemparkan ujung sampur kepada penonton yang mengelilinginya. Biasanya diawali dari Bagian Barat, Timur, Selatan dan kemudian Utara. Pelaksanaan pementasannya biasanya dilakukan pada malam hari terutama pada bulan purnama di halaman terbuka. Penari Gandrung pria pernah ditampilkan berjumlah empat orang penari secara bersama-sama.

Pada perkembangan terakhir penari gandrung dilakukan oleh seorang wanita dan kebetulan penari gandrung wanita pertama juga penari seblang bernama Semi, putri seorang pcnduduk Cungking bernama Mak Midah. Desa Cungking sampai tahun 1850 penduduknya masih beragama Ciwa. Di desa inilah yang sampai sekarang masih merniliki kesenian seblang yaitu sekarang di kelurahan Bakungan. Urutan pcnampilan biasanya diawali dengan tari jejer, baru kemudian disusul tari dan gending-gending lain sesuai pcrmintaan para tamu, yang menari bersama penari gandrung biasanya diatur menurut datangnya tamu dalam arena tersebut. Dalam mengatur urutan tersebut biasanya penari gandrung dibantu oleh seorang gedog atau sering disebut pramugari. Sedangkan pada akhir pertunjukan ditutup dengan tari seblang subuh yaitu yang pada syair gendingnya mengandung petuah-petuah bagi para penonton.

Sekolah Alam Banyuwangi Siswa ke Sekolah Membawa Sayur


MAHALNYA biaya pendidikan mulai tidak dirasakan sebagian masyarakat Kecamatan Genteng, Banyuwangi, dan sekitarnya. Di tengah melambungnya kebutuhan sekolah, warga setempat memperoleh fasilitas sekolah murah dan terjangkau biayanya. Meski disuguhi kualitas belajar bermutu, para siswa hanya dipungut iuran dalam bentuk sayuran.

Inilah Sekolah Alam Banyuwangi yang terletak di Desa Genteng Wetan. Sekolah unik yang juga dikenal sebagai ‘Sekolah Sayur’ itu masih sebatas tingkat SMP. Meski baru berdiri dua tahun, sekolah ini cepat menarik perhatian warga. Biayanya sangat murah, nyaris tidak ada pungutan. Siswa hanya dibebani membawa sayuran ketika masuk sekolah.

Tercatat 21 siswa yang menuntut ilmu di sekolah itu sekarang ini. Mereka kebanyakan warga di sekitar sekolah. Sisanya, datang dari beberapa kecamatan di Kabupaten Banyuwangi. Lokasi bangunan sekolah alam ini berada di pinggir bendungan besar. Luas kompleknya sekitar 1 hektar.

Awalnya, banyak tudingan miring muncul. Kebanyakan mereka mencibir sekolah itu sebagai tidak berkualitas. Tetapi, fakta berkata lain. Justru siswa sekolah ini memiliki kemampun yang jarang dimiliki siswa sekolah lain, yakni kemampuannya berkomunikasi dalam tiga bahasa, Inggris, Arab, dan Jepang.

Proses belajar-mengajarnya menggunakan metode pondok pesantren. Para siswa wajib tinggal di asrama. Sistem itu cukup jitu dan mampu membentuk pribadi yang disiplin. Buktinya, para siswa dengan mudah menyerap ilmu pelajaran, sekaligus aktif menerapkan ilmu yang didapat.

Siswa diajari hidup berswadaya atau mandiri. Mereka menyiapkan makanan hingga memasaknya sendiri. Inilah metode sekolah alam, kata Anik Wahyuni, salah seorang gurunya.

Berdirinya sekolah alam dipelopori dua tokoh masyarakat. Salah seorang di antaranya, guru senior Mohamad Farid. Sekolah alam berdiri secara swadaya dan kini sudah mengantongi sertifikat resmi dari Dinas Pendidikan Kabupaten Banyuwangi.

Ide awalnya hanya menolong warga yang tak mampu menyekolahkan anaknya di SMP. Modal utamanya berkorban untuk sesama. Tak mengherankan jika tenaga pengajar tidak mendapatkan honor yang pantas, meski kebanyakan mereka tamatan perguruan tinggi berkualitas. Kami beramal. Biar Tuhan yang akan membalas, tutur Anik yang juga guru Bahasa Jepang itu.

Metode sekolah sayur sedikit meniru sekolah alam gagasan Gus Dur di Ciganjur. Bedanya, di Banyuwangi siswa hanya dipungut sayuran, yang akan digunakan untuk kebutuhan makan sehari-hari para siswa. Kebutuhan alat tulis dan fasilitas lain sepenuhnya datang dari donatur. Tercatat ada beberapa donatur besar.

Sepintas, sekolah alam ini mirip bangunan sebuah kafe. Bangunan kuno itu memang bekas tempat hiburan malam. Karena kosong, akhirnya dipinjamkan gratis untuk sekolah alam.

Saat masuk, pengunjung akan menemukan sebuah perkebunan hijau yang asri. Semua itu hasil kreasi para siswa. Ternyata, kawasan mirip kebun wisata itu menjadi tempat out bond bagi siswa.

Sebagaimana sekolah umum, SMP alam menerapkan persyaratan pendidikan umumnya. Di samping itu, para siswa dibekali mata pelajaran pesantren lebih dalam. Siswa juga diajari materi pengembangan pribadi. Para guru selalu menekankan bagaimana hidup mandiri dan mengamalkan ilmu yang didapat, ujar Anik.

Tiap akhir pekan, para siswa diberi jatah pulang sehari. Saat kembali ke asrama, mereka wajib membawa sayuran. Jumlahnya disesuaikan kemampuan masing-masing. Hampir seluruh siswa dari kalangan petani. Akibatnya, sumbangan sayur selalu menumpuk.

Saat calon siswa mendaftar, diwajibkan membawa sebatang pohon yang akan ditanam di lokasi sekolah. Tujuannya, mengingatkan siswa pentingnya penghijauan. Itu juga simbol “ditanamnya” siswa di sekolah alam. Bagi siswa yang memiliki ternak, dibolehkan menyumbangkannya.

Ternak itu dipelihara di asrama. Hasilnya digunakan untuk menambah biaya operasional sekolah, termasuk untuk kebutuhan makan sehari-hari siswa.

Jika sekolah alam muncul di tiap kota, persoalan mahalnya biaya pendidikan tidak akan terjadi lagi. Tiap warga bisa mengenyam pendidikan dasar gratis seperti yang diharapkan pemerintah. -udi


Dilarang Pacaran Teman Sekolah

BERSEKOLAH di SMP alam di Genteng Wetan, tidak membuat para siswanya merasa minder. Seperti yang dialami Nurul Khotimah, siswa kelas 3. Dia mengaku senang bersekolah di sini.

Pada awal masuk sekolah, kebanyakan siswa memang sempat merasa rendah diri. Apalagi, lokasi sekolahnya terpencil dan jauh dari kegiatan masyarakat. Membayar dengan sayuran nyaris menurunkan semangatnya belajar. Bayar sayur, mana bisa pintar, ungkap Nurul menirukan kritik teman-temannya.

Lambat-laun perasaan minder hilang. Siswa bersemangat untuk belajar. Tiap hari siswa mendapat jatah belajar hingga 19 jam. Siswa wajib bangun pukul 03.00, dilanjutkan sembahyang dan mendengarkan ceramah. Kemudian, diikuti kegiatan olahraga dan kegiatan lainnya.

Mereka tidak boleh berkeliaran.
Hampir 60% pendidikan sekolah alam ditekankan pada bidang agama. Sisanya, mata pelajaran umum. Siswa istirahat terakhir pukul 22.00. Suasana lingkungan sekolah yang alami menambah semangat para siswa untuk menimba ilmu.

Selama belajar, mereka ditemani sejuknya udara dari arah perkebunan sekolah. Suasana terasa kian nyaman berkat suara air gemericik yang datang dari bendungan raksasa dekat sekolah.

Hal yang membanggakan siswa adalah kemahirannya berbahasa asing. Tiap hari siswa wajib menggunakan bahasa asing dalam berkomunikasi. Kami tidak pernah menggunakan Bahasa Jawa dan Indonesia. Semuanya bahasa asing, Arab, Inggris dan Jepang, ujar gadis asal Kalibaru, Banyuwangi Barat, itu.

Kebiasaan berbahasa asing membawa berkah bagi para siswa. Mereka sering diundang sekolah negeri untuk menjadi pembimbing bahasa. Biasanya, undangan datang seminggu sekali.

Mereka juga diberi jatah waktu mengajar di sekolah favorit. Kami kan bangga, dari sekolah sayuran bisa mengajar sekolah yang bayarnya mahal, cetus Nurul sambil tersenyum.

Siswa diwajibkan membuat kelompok belajar. Saat pulang kampung mereka wajib mengamalkan ilmunya. Mereka hidup dengan gaya sederhana. Hal itu terlihat saat makan, pada pakaian yang dikenakan, dan kesenangan lainnya. Ketika makan, siswa dijatah sesuai porsi masing-masing.

Siswa menyiapkan makanan sendiri dengan dibantu juru masak. Tugas masak bergilir.
Mereka dilarang keras berpacaran satu sama lain. Waktu luang diisi berbagai kegiatan tambahan, seperti olahraga, melukis dan keterampilan lain. Tak sedikit pun waktu dibiarkan berlalu tanpa kegiatan berarti. –udi



Sumbangkan Kambing dan Ayam

BAGI kalangan warga tak mampu, sekolah alam adalah salah satu alternatif solusinya. Dengan biaya murah, mereka bisa menyekolahkan anak dengan hasil berkualitas. Alasan inilah yang membuat sebagian orangtua melirik sekolah alam ini.

Pada awal anaknya masuk, para orangtua juga sempat minder. Hal itu diungkapkan Romzini, salah seorang orangtua murid. “Sekolah kok hanya membayar pakai sayur, apa bisa berkualitas?”

keraguannya dalam hati.
Rasa kecil hati itu musnah setalah anaknya bersekolah dan pulang membawa hasil. Bahasa Inggrisnya lancar dan mampu mengaji dengan cepat.

Ia menuturkan, sejak masuk di sekolah alam, anaknya tidak banyak tingkah. Ketika pulang kampung, mereka mampu mengajari teman-temannya berbahasa Inggris.
Biaya murah, hasil maksimal.

Itulah prinsip yang dicari para orangtua umumnya saat ini, khususnya mereka yang petani. Mereka hanya perlu menyediakan sayuran.

Orangtua siswa yang memiliki rezeki lebih, ada yang menyumbangkan kambing atau ayam ke pihak sekolah. Jika musim panen, mereka mengirimkan sayuran dalam jumlah besar. Semuanya mereka lakukan dengan semangat kekeluargaan.

Memasukkan anak ke sekolah alam harus punya jiwa tulus dan pasrah. Ibaratnya, mereka menyerahkan anaknya untuk digodok dalam kawah condra dimuka sebelum terjun ke masyarakat.
B
anyak wali murid berharap kelak ada sekolah alam hingga tingkat SMA dan perguruan tinggi.

Wisata Belanja

Pertokoan / mall :

Ramayana Hardy's Mall, Jalan Adi Sucipto (depan Universitas Tujuhbelas Agustus 1945 Banyuwangi)

Roxy Mall, Jalan Jenderal A. Yani (Samping BRI Banyuwangi)

Wijaya Mall, Jalan M.H Thamrin Banyuwangi

Giant Mall Jl. Basuki Rachmat Banyuwangi

Pasar Tradisional :

Pasar Blambangan Banyuwangi

Pasar Banyuwangi

Pasar Pujasera segi tiga berlian

Pasar Sobo Banyuwangi

Pasar Mojopanggung Banyuwangi

Pasar Rogojampi

Pasar Srono

Pasar Muncar

Pasar Gendoh

Pasar Genteng I

Pasar Genteng II

Pasar Benculuk

Pasar Jajag

Pasar Kebondalem

Pasar Kalibaru

Pasar Glenmore

Pasar Jatirejo Tegaldlimo

Petik Laut


DALAM tiap bulan Muharam atau Syuro dalam penanggalan Jawa, bukan hanya petani, nelayan pun menggelar ritual untuk memohon berkah rezeki dan keselamatan. Seperti yang dilakukan komunitas nelayan di Muncar, Banyuwangi, Senin (12/1). Mereka melarung sesaji ke tengah samudera dalam kegiatan petik laut.

Bagi nelayan Muncar, petik laut adalah gawe besar yang tidak boleh ditinggalkan. Hari yang dipilih bulan purnama, tepat tanggal 15 di penanggalan Jawa.

Ritual diawali pembuatan sesaji oleh sesepuh nelayan. Mereka adalah keturunan warga Madura yang sudah ratusan tahun turun-temurun mendiami pelabuhan Muncar. Disiapkan perahu kecil dibuat seindah mungkin mirip kapal nelayan yang biasa digunakan melaut.

Perahu diisi puluhan jenis hasil bumi dan makanan yang seluruhnya dimasak keluarga sesepuh adat. Jenis makanan berbagai jajanan, nasi tumpeng dan buah-buahan, ditata rapi di perahu kecil tadi. Sesaji yang sudah jadi disebut gitek.

Pada hari yang ditentukan, ratusan nelayan berkumpul di rumah sesepuh adat sejak pagi. Mereka menggunakan baju khas Madura sambil membawa senjata clurit. Menjelang siang, sesaji diarak menggunakan dokar menuju pantai. Sepanjang iring-iringan, dua penari Gandrung ikut mendampingi. Bunyi gamelan Gandrung mengalun indah.

Nelayan menari sambil mengacungkan senjata cluritnya. Di depannya, dukun membawa abu kemenyan. Sambil melantunkan doa, dukun menyebarkan beras kuning simbol tolak bala.

Ribuan warga berdiri di sepanjang jalan mengamati perjalanan sesaji. Begitu lewat, warga berhamburan mengikuti di belakang menuju pantai. Arak-arakan berakhir di tempat pelelangan ikan, yang dihadiri jajaran Muspida Banyuwangi.

Sesaji tiba disambut enam penari Gandrung. Setelah doa, sesaji diarak menuju perahu. Warga berebut untuk bisa naik perahu pengangkut sesaji. Namun, petugas membatasi penumpang yang ikut ke tengah.

Sebelum diberangkatkan, kepala daerah diwajibkan memasang pancing emas di lidah kepala kambing. Ini simbol permohonan nelayan agar diberi hasil ikan melimpah.

Menjelang tengah hari, iring-iringan perahu bergerak ke laut. Bunyi mesin diesel menderu membelah ombak. Suara gemuruh lewat sound-system menggema di tiap perahu.

Dari kejauhan barisan perahu berukuran besar bergerak kencang. Hiasan umbul-umbul berkibar menambah suasana makin sakral. Begitu padatnya perahu yang bergerak, sempat terjadi beberapa kali tabrakan kecil.

Iring-iringan berakhir di sebuah lokasi berair tenang, dekat semenanjung Sembulungan. Kawasan ini sering disebut Plawangan. Seluruh perahu berhenti sejenak. Dipimpin sesepuh nelayan, sesaji pelan-pelan diturunkan dari perahu. Teriakan syukur menggema begitu sesaji jatuh dan tenggelam ditelan ombak.

Begitu sesaji tenggelam, para nelayan berebut menceburkan diri ke laut. Mereka berebut mendapatkan sesaji. Nelayan juga menyiramkan air yang dilewati sesaji ke seluruh badan perahu. “Kami percaya air ini menjadi pembersih malapetaka dan diberkati ketika melaut nanti,” kata Mat Roji, sesepuh nelayan Muncar.

Dari Plawangan, iring-iringan perahu bergerak menuju Sembulungan. Di tempat ini, nelayan kembali melarung sesaji ke dua kalinya. Hanya, jumlahnya lebih sedikit. Sebuah sasaji ditempatkan di nampan bambu dilarung pelan-pelan. Konon ini memberikan persembahan bagi penunggu tanjung Sembulungan.

Selesai larung sesaji, pesta nelayan dilanjutkan di pantai Sembulungan. Di pantai berpasir putih ini, para nelayan berdoa di makam Gandrung yang terletak di lereng tanjung Sembulungan. Makam ini adalah milik Gandrung yang pertama kali mengiringi ritual petik laut di Muncar.

Di tempat ini para nelayan juga mempersembahkan sesaji. Ritual diakhiri selamatan bersama. Kemudian dilanjutkan menikmati tarian Gandrung dengan gending-gending klasik suku Using, hingga sore hari.

Tradisi langka ini masuk dalam salah satu agenda pariwisata Banyuwangi. Sayang, ritual tersebut belum begitu dikenal turis mancanegara. Hanya warga lokal yang selalu memadati kegiatan ini. -udi

Penari harus Perawan

RITUAL petik laut wajib menghadirkan dua penari Gandrung yang masih perawan. Konon, ini berkaitan ritual petik laut pertama kali di Tanjung Sembulungan. Kala itu, seorang penari Gandrung mendadak meninggal dan dimakamkan di pinggir pantai. Sejak itu, petik laut wajib menghadirkan penari Gandrung.
Memilih penari Gandrung yang berani ikut ke tengah laut dan mendampingi sesaji tidak gampang. “Saya takut naik perahu, apalagi harus singgah ke makam Gandrung di Sembulungan,” ujar Wati penari Gandrung asal Rogojampi. Namun, rasa takut Wati hilang setelah penari Gandrung lainnya meyakinkan tidak akan terjadi apa-apa.
Akhirnya Wati menyanggupi ikut petik laut. Sebelum berangkat, penari Gandrung singgah di rumah sesepuh adat diberi doa khusus.
Dalam petik laut Januari itu pertama dan terakhir bagi Wati mengikuti ritual ini. Gandrung yang ikut mengarak sesaji hanya boleh sekali diundang. Tahun berikutnya akan diganti Gandrung lain.
Di sepanjang perjalanan, di atas perahu penari terus melenggang diiringi gamelan. Mereka melantunkan gending-gending Using. Isinya ungkapan suka-cita perayaan petik laut. Puluhan nelayan yang mengiringi gandrung ikut menari di atas perahu.
Kepiawaian Wati menari berawal sejak duduk di bangku SMA. Kemudian dia belajar di sanggar seni. Tiga bulan ditempa, Wati tumbuh menjadi penari andal. Dia sering manggung yang tak jarang dijalaninya semalam suntuk. -udi

Sakera Mirip Pecalang

SEJATINYA, petik laut adalah tradisi suku Jawa yang menyakralkan bulan Muharam atau Syuro. Di Muncar, ritual ini berkembang setelah kehadiran warga Madura yang terkenal sebagai pelaut. Tak mengherankan, jika petik laut selalu dipenuhi ornamen suku Madura. Salah satunya, seragam pakaian Sakera, baju hitam dan membawa clurit, simbol kebesaran warga Madura yang pemberani.
Seragam Sakera tersebut disiapkan khusus untuk upacara dan hanya dipakai sekali. “Ini bukan pemborosan, tetapi kami menghargai kesakralan upacara,” kata Khoirulah, salah seorang nelayan.
Petugas Sakera dipilih yang berbadan besar. Biasanya mereka berpenampilan sangar dan angker. Dengan kumis tebal dan gelang besar, Sakera juga diharuskan berpenampilan lucu.
Sakera juga menjadi pengaman jalanya ritual. Mereka selalu berjalan di depan mengawal sesaji dari lokasi upacara ke tengah laut. Mereka mengatur warga yang ingin berebut naik perahu. Sakera mirip Pecalang di Bali. Sesepuh adat juga mengenakan baju Sakera, serba hitam. Bagian dalam kaus loreng merah putih. Udengnya batik merah tua.

Nelayan Muncar juga mengenakan seragam ini pada tiap upacara adat lainnya. Bahkan sesekali digunakan ketika mereka melaut mencari ikan.

Pesawat aneh
















































ki ki ki kiiiiiiiiita semua dilahirkan sebagai manusia normal yang dapat berpikir secara logis, sistematis dan analitis. Tapi kami dari tim kupastuntas, tidak yakin kalau orang-orang yang membuat pesawat ini berpikir secara logis, sistematis, dan analitis….. lihatlah foto pesawat aneh berikut ini

Chavez Jadi presiden Abadi


CARACAS - Tiket menjadi pemimpin seumur hidup Venezuela kini berada di tangan Presiden Hugo Chavez. Itu terjadi setelah tokoh anti-Amerika Serikat tersebut memenangkan referendum tentang perubahan masa jabatan presiden yang diselenggarakan pada Minggu lalu (15/2).

''Mereka yang memilih 'ya' sudah memberikan suara untuk sosialis, untuk revolusi,'' seru Chavez di hadapan ribuan pendukung yang merayakan kemenangan di sekitar Istana Kepresidenan di Caracas kemarin (16/2).

Perayaan itu ditandai kembang api yang tak henti dinyalakan. Associated Press juga melaporkan, dalam kesempatan tersebut, seorang pendukung Chavez berjalan di tengah kerumunan sambil mengusung spanduk bertulisan Forever (Abadi).

Hingga kemarin, pemerintah sudah berhasil menghitung sekitar 94 persen total suara yang masuk. Hasil resmi sementara menunjukkan kemenangan kubu Chavez dengan dukungan 54 persen suara. Sedangkan mereka yang memilih ''tidak'' hanya memperoleh 46 persen suara. Dengan hasil itu, amandemen undang-undang kepresidenan seperti yang diinginkan pemimpin 54 tahun tersebut pun akan segera terjadi.

Jika sebelumnya masa jabatan presiden Venezuela dibatasi dua kali, dengan amandemen tersebut, Chavez bisa terus memimpin sampai akhir hayatnya. Tentu dengan catatan, dia menang di setiap pemilihan presiden, mulai yang terdekat pada 2012 mendatang. Namun, menengok popularitasnya, terutama di kalangan menengah ke bawah, kans Chavez untuk terus terpilih sangat besar. Apalagi, menurut Agence France-Presse, belakangan kebijakan-kebijakannya semakin populis.

Meski menerima dengan lapang dada kemenangan Chavez, para pemimpin oposisi khawatir referendum itu bakal menjadi gerbang lahirnya diktator Venezuela. ''Kecuali Tuhan dan rakyat berkehendak lain, serdadu ini (Chavez) akan selalu menjadi kandidat (presiden),'' ujar kubu oposisi.

Sejak kali pertama terpilih pada 1998, Chavez sudah menegaskan bahwa dirinya akan tetap duduk di kursi presiden hingga 2049. Saat itu dia berusia 95 tahun. Namun, analis minta Chavez agar tidak terlalu percaya dir

Hubungan Turki-Israel Makin Panas


ANKARA - Hubungan antara Turki dan Israel kian memanas setelah Kementerian Luar Negeri Turki memanggil Duta Besar (Dubes) Israel di Turki kemarin.

Pemanggilan Dubes Israel Gabby Levy itu untuk meminta penjelasan tentang pernyataan keras petinggi militer Israel Mayor Jenderal Avi Mizrahi bahwa Turki membunuh banyak warga Armenia pada 1915, menindas etnik Kurdi, dan menduduki wilayah Siprus. Tuduhan Mizrahi itu membuat marah Pemerintah Turki karena masalah itu sangat sensitif bagi Ankara. Ketegangan Turki-Israel itu dapat memengaruhi peran Ankara dalam mediasi perdamaian di Timur Tengah, bersama Mesir dan Prancis.

"Pernyataan Mayor Jenderal Avi Mizrahi itu tidak berdasar dan tidak dapat diterima. Kami meminta penjelasan dari Pemerintah Israel," ujar Kementerian Luar NegeriTurki kemarin. Ketegangan antara Turki dan Israel sebelumnya dipicu oleh perang mulut antara Perdana Menteri (PM) Turki Recep Tayyip Erdogan dan Presiden Israel Shimon Peres terkait agresi militer Israel di Jalur Gaza yang menewaskan lebih 1.330 warga Palestina.


Dalam perang mulut di acara Forum Ekonomi Dunia (WEF) Davos, Swiss itu Erdogan mengatakan,"Peres tahu dengan baik bagaimana cara untuk membunuh." Menanggapi pemanggilan Dubes Israel tersebut, Pasukan Pertahanan Israel (IEDF) menegaskan bahwa komentar Mizrahi bukan sikap resmi militer. "IDF berharap dapat mengklarifikasi bahwa itu bukan sikap resmi IDF.

Dubes Israel telah dipanggil dan mendengarkan keberatan Turki dan masalah itu telah disampaikan ke pemerintahan Israel di Yerusalem," ujar juru bicara Kementerian Luar Negeri Israel. Dalam wawancara khusus pada Jumat (13/2), Erdogan mengatakan, "Malangnya, pemilu Israel kali ini telah melukiskan sebuah gambar yang sangat gelap." Erdogan mendesak pemerintahan baru Israel untuk serius dalam membuat kebijakan dan tindakan terhadap warga Palestina serta bagaimana mencabut embargo di Jalur Gaza.

Menurut Erdogan, embargo berupa blokade perbatasan itu merupakan bentuk "penjara terbuka". Erdogan menegaskan, sikap keras Israel telah gagal. Seperti dikutip surat kabar Israel Haaretz, Mizrahi berkata, "Erdogan harus melihat di kaca sebelum menyerang Peres. Turki tidak memiliki posisi untuk mengkritik pendudukan Israel di tanah warga Palestina saat pasukan Turki juga menduduki wilayah utara Siprus." Mizrahi juga menuduh Turki menindas warga minoritas Kurdi dan membunuh warga Armenia pada Perang Dunia I.

Semua tuduhan Mizrahi itu langsung disangkal militer Turki. "Komentar itu telah mencapai level yang dapat merusak kepentingan nasional antara kedua negara," papar juru bicara militer Turki yang memperingatkan bahwa kerja sama militer Turki dan Israel yang selama ini terjalin dapat terganggu akibat ulah Mizrahi. Turki dan Israel memiliki hubungan kerja sama militer yang sangat dekat.

Ini termasuk dengan kesediaan Turki mengizinkan pasukan angkatan udara Israel untuk berlatih di wilayah Turki. Kedua negara juga saling membagi informasi intelijen dan memiliki hubungan perdagangan yang kuat, termasuk penjualan berbagai peralatan militer. "Ada sejumlah orang yang inginTurki memutus hubungan dengan Israel, tapi kami tidak sepakat.

Sebelum mengambil langkah atau memikirkan kebijakan itu,kami harus mengkajinya dulu," papar Erdogan. Ia juga menambahkan bahwa Turki tidak berencana menghentikan kesepakatan dalam program militer. Sejumlah diplomat dan analis mengatakan, Turki memegang peran penting sebagai mediator di Timur Tengah dan dianggap mampu bersikap netral dalam negosiasi antara Israel dan Syria.
okenews.com

Terumbu karang di banyuwangi kritis


Banyuwangi ( Berita ) : Terumbu karang di pesisir pantai Banyuwangi, Jawa Timur, saat ini kondisinya sangat kritis akibat maraknya penangkapan ikan dengan menggunakan bahan peledak jenis potasium dan banyaknya pencurian batuan karang sebagai campuran kapur.

Kepala Bidang Perikanan Tangkap dan Budidaya Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Banyuwangi, Pudjo Hartanto, Kamis (11/12), mengatakan, terumbu karang selama ini menjadi tempat yang cocok untuk perkembangbiakan ikan dan sebagai penyeimbang tingkat keasaman air laut, serta menjadi penahan gelombang untuk menghindari terjadinya abrasi.

“Kebetulan pantai di Banyuwangi ini merupakan tempat yang paling cocok sebagai tempat budidaya terumbu karang mulai dari pantai Watu Dodol hingga ke arah Taman Nasional Baluran,” katanya.

Pudjo menambahkan, pemulihan terumbu karang dilakukan dengan sistem transplantasi berbahan dasar silikat. “Hasilnya bisa diketahui pada usia tujuh bulan, tinggi terumbu karang antara 1-1,5 sentimeter. Kerusakan lahan di Bangsring yang mencapai 60 persen membutuhkan waktu pemulihan 10 hingga 20 tahun,” katanya.

Dinas Kelautan dan Perikanan bekerja sama dengan Polisi Air, TNI AL, dan Syahbandar rutin melakukan operasi pengawasan terumbu karang. “Sayang peralatan GPS yang dimiliki DKP kondisinya rusak sehingga tidak bisa memonitor setiap saat,” ujarnya.

Selain itu, dia meminta peran serta nelayan ikan hias dalam menjaga terumbu karang terus ditingkatkan, dan tidak menggunakan potasium saat mencari ikan di laut.

Ia mengimbau para nelayan di daerah itu menggunakan jaring milenium agar kelestarian lingkungan sekitar pantai tetap terjaga. “Bentuknya sama seperti jaring yang dipakai menjaring ikan. Hanya saja, panjangnya 4-6 meter dengan lebar 1-2 meter yang memiliki lingkar mata 1-2 milimeter,” katanya.

Pudjo berharap, ikan yang diekspor terlebih dahulu dilakukan uji laboratorium. “Bila ada ikan yang diambil menggunakan potasium akan kelihatan. Ikannya tidak boleh diekspor. Ini membuat efek jera pada nelayan yang membandel,” katanya.

Sunan Giri Lahir Di Banyuwangi

ia memiliki nama kecil Raden Paku, alias Muhammad Ainul Yakin. Sunan Giri lahir di Blambangan (kini Banyuwangi) pada 1442 M. Ada juga yang menyebutnya Jaka Samudra. Sebuah nama yang dikaitkan dengan masa kecilnya yang pernah dibuang oleh keluarga ibunya--seorang putri raja Blambangan bernama Dewi Sekardadu ke laut. Raden Paku kemudian dipungut anak oleh Nyai Semboja (Babad Tanah Jawi versi Meinsma).

Ayahnya adalah Maulana Ishak. saudara sekandung Maulana Malik Ibrahim. Maulana Ishak berhasil meng-Islamkan isterinya, tapi gagal mengislamkan sang mertua. Oleh karena itulah ia meninggalkan keluarga isterinya berkelana hingga ke Samudra Pasai.

Sunan Giri kecil menuntut ilmu di pesantren misannya, Sunan Ampel, tempat dimana Raden Patah juga belajar. Ia sempat berkelana ke Malaka dan Pasai. Setelah merasa cukup ilmu, ia membuka pesantren di daerah perbukitan Desa Sidomukti, Selatan Gresik. Dalam bahasa Jawa, bukit adalah "giri". Maka ia dijuluki Sunan Giri.

Pesantrennya tak hanya dipergunakan sebagai tempat pendidikan dalam arti sempit, namun juga sebagai pusat pengembangan masyarakat. Raja Majapahit -konon karena khawatir Sunan Giri mencetuskan pemberontakan- memberi keleluasaan padanya untuk mengatur pemerintahan. Maka pesantren itupun berkembang menjadi salah satu pusat kekuasaan yang disebut Giri Kedaton. Sebagai pemimpin pemerintahan, Sunan Giri juga disebut sebagai Prabu Satmata.

Giri Kedaton tumbuh menjadi pusat politik yang penting di Jawa, waktu itu. Ketika Raden Patah melepaskan diri dari Majapahit, Sunan Giri malah bertindak sebagai penasihat dan panglima militer Kesultanan Demak. Hal tersebut tercatat dalam Babad Demak. Selanjutnya, Demak tak lepas dari pengaruh Sunan Giri. Ia diakui juga sebagai mufti, pemimpin tertinggi keagamaan, se-Tanah Jawa.

Giri Kedaton bertahan hingga 200 tahun. Salah seorang penerusnya, Pangeran Singosari, dikenal sebagai tokoh paling gigih menentang kolusi VOC dan Amangkurat II pada Abad 18.

Para santri pesantren Giri juga dikenal sebagai penyebar Islam yang gigih ke berbagai pulau, seperti Bawean, Kangean, Madura, Haruku, Ternate, hingga Nusa Tenggara. Penyebar Islam ke Sulawesi Selatan, Datuk Ribandang dan dua sahabatnya, adalah murid Sunan Giri yang berasal dari Minangkabau.

Dalam keagamaan, ia dikenal karena pengetahuannya yang luas dalam ilmu fikih. Orang-orang pun menyebutnya sebagai Sultan Abdul Fakih. Ia juga pecipta karya seni yang luar biasa. Permainan anak seperti Jelungan, Jamuran, lir-ilir dan cublak suweng disebut sebagai kreasi Sunan Giri. Demikian pula Gending Asmaradana dan Pucung -lagi bernuansa Jawa namun syarat dengan ajaran Islam.n

Lahan Lapter Dikuasai Warga Pengatigan


BANYUWANGI - Sidang lanjutan kasus dugaan korupsi pengadaan lahan lapangan terbang (lapter) jilid I, memasuki babak baru. Jaksa Penuntut Umum (JPU) menghadirkan beberapa orang pemilik lahan sebagai saksi di Pengadilan Negeri (PN) Banyuwangi kemarin (13/2).

Dalam sidang dengan terdakwa mantan Kabag Perlengkapan Pemkab, Sugiharto, jaksa menghadirkan sekitar delapan saksi pemilik lahan. Para saksi itu adalah Hj Tatiek Nurhidayati, Moch Rofiq Cahyono, Husnul Abadi, Salim Salimi, Harun Suwarno, Jumahar, dan Ernawati.

Para saksi itu tercatat sebagai pemilik terakhir lahan di Desa Blimbingsari. Sebagian besar saksi itu merupakan warga Desa Pengatigan, Kecamatan Rogojampi. Sekadar diketahui, jarak antara lokasi lapter di Desa Blimbingsari dengan Desa Pengatigan sekitar tujuh kilometer.

Namun dalam persidangan itu belum diketahui secara pasti, apakah mereka termasuk orang dekat pengusaha sekaligus mantan Kades Pengatigan, terdakwa H Effendi. Yang sudah pasti orang dekat Effendi adalah istrinya sendiri, yakni Tatiek.

Dalam persidangan juga belum terungkap, bagaimana cara mereka menguasai lahan tersebut sebelum menjualnya kepada pemkab. Belum juga terungkap dalam sidang, kapan para saksi itu membeli lahan dari pemilik lama yakni para petani di Desa Blimbingsari dan Desa Badean.

Yang jelas, delapan saksi itu merupakan pemilik lahan yang menjual lahan tersebut kepada pemkab mulai tahun 2002 hingga 2007. Tatiek menjual lahannya seluas 21,520 hektare kepada pemkab pada tahun 2002, senilai Rp 309 juta. Husnul Abadi menjual lahannya seluas 12,235 hektare kepada pemkab senilai Rp 176 juta. Harun Suwarno menjual lahan seluas 5,290 hektare senilai Rp 76 juta.

Sedangkan saksi Ernawati menjual lahannya pada tahun 2003 seluas 8,262 hektare senilai Rp 210 juta. Rofiq menjual lahannya 10,915 hektare senilai Rp 288 juta.

Ketika terdakwa Sugiharto menjabat sebagai kabag perlengkapan pemkab, Tatiek masih memiliki lahan yang jual pada pemkab seluas 6,635 hektare seharga Rp 398 juta. Harun Suwarno menjual 7,630 hektare kepad apemkab senilai Rp 457 juta. Sedangkan lahan Ernawati seluas 2,5 hektare, dijual ke pemkab senilai Rp 150 juta.

Dalam persidangan itu, majelis hakim meminta beberapa saksi mengungkapkan luas lahan yang dijual kepada pemkab. Hanya, mereka rata-rata mengaku sudah lupa berapa jumlah detail lahannya yang dijual pada pemkab. Mereka mengaku sudah memberikan keterangan panjang lebar kepada penyidik Kejaksaan Agung saat diperiksa sebagai saksi beberapa waktu lalu. "Jumlah persisnya saya lupa, Pak Hakim," kata Tatiek.

Pertanyaan lainnya adalah seputar penetapan harga dan cara pencairan dana ganti rugi dari pemkab. Mereka mengaku dana pembayaran penjualan lahan itu diterima langsung dari Bank Jatim.

Majelis hakim juga mengejar status kepemilikan lahan sebelum di jual kepada pemkab. Beberapa saksi mengaku membelinya dari sejumlah petani di Desa Blimbingsari dan Badean. Anehnya, mereka mengaku tidak tahu persis, kalau lahan itu akan digunakan lokasi proyek lapangan terbang. "Dari mana dana untuk membeli lahan itu?" tanya Hakim Ketua Tani Ginting kepada Saksi Moch Rofik.

Rofiq menjawab, kalau dana untuk membeli lahan pada petani di Desa Blimbingsari itu merupakan uang sendiri. Terkait dengan penetapan harga, sejumlah pemilik lahan itu mengaku kesepakatan harga itu ditetapkan melalui proses yang panjang dengan pihak pemkab.

Sementara sidang lanjutan terdakwa mantan sekkab Sudjiharto, jaksa menghadirkan lima saksi dari kalangan pejabat Pemkab. Mereka adalah, RR. Nanin Oktaviantie, Abdul Aziz Hamidi, Budi Hartono, Jafrie Yusuf, dan Marge Siswono.

Nanin diminta kesaksian dalam kapasitas sebagai mantan sekretaris Sekretariat panitia pengadaan lahan lapter tahun 2006. Dalam sidang yang dipimpin hakim Ridwantoro itu, Nanin diminta menjelaskan soal proses penetapan harga pembelian lahan 2006 senilai Rp 60 ribu per meter persegi.

Nanin panjang lebar menjelaskan, proses penetapan harga pembelian lahan tersebut. Majelis hakim sempat menanyakan kepadanya, apakah terdakwa mantan Sekkab Sudjiharto ikut dalam rapat penetapan harga, Nanin menjawab tidak ikut. Dalam rapat penetapan harga, Sudjihartto tidak hadir. Saat rapat itu, sekkab mewakilkan kepada Sekretaris Panitia yang waktu itu dijabat Asisten Pemerintahan (Aspem) Pemkab, Ari Pintarti.

Tidak hanya itu, Nanin juga ditanya soal tim penaksir lahan. Nanin memberikan kesaksian, bahwa pembebasan lahan 2006 tidak menggunakan juru taksir seperti yang diatur dalam Pepres 36/2005.

Dalam keterangannya, Nanin menyebutkan bahwa pembebasan lahan lapter tahun 2006 tidak menggunakan tim penaksir. Alasannya, pihak kantor PBB menolak untuk dilibatkan sebagai tim taksir independen. Sekretariat panitia sudah beberapa kali mengirimkan surat permintaan kepada kepala kantor PBB sebagai juru taksir, namun selalu ditolak. "Lalu dasar penetapan harga lahan menggunakan apa?" tanya hakim Ridwantoro.

Terhadap pertanyaan hakim itu, Nanin sempat berpikir panjang sebelum memberikan jawaban. Hakim sempat meminta Nanin tidak terlalu panjang memikirkan. "Kalau nggak tahu, jawab nggak tahu saja," cetus hakim anggota, Bambang Eka Putra.

Sedangkan saksi lainnya, majelis hakim meminta kesaksian seputar jabatan yang pegang saat ini. Jafrie Yusuf ditanya masalah proses pencairan dana saat menjabat sebagai Kabag Keuangan Pemkab. Sedangkan mantan Camat Rogojampi, Abdul Aziz Hamidi dan Kades Blimbingsari Budi diminta kesaksian soal proses penetapan harga. Keduanya juga tercatat sebagai anggota panitia pengadaan lahan

Ombak Tenggelamkan Enam Jungkung


BANYUWANGI - Kecelakaan laut kembali terjadi di perairan Plawangan, wilayah laut Grajagan, Kecamatan Purwoharjo. Dalam dua hari terakhir ini, enam perahu jenis jungkung milik nelayan Grajagan dan nelayan asal Desa Gutem, Kecamatan Puger, Jember, tenggelam hingga mengalami kerusakan yang cukup parah.

Dari enam jungkung itu, tiga di antaranya tenggelam karena diterjang ombak besar terjadi kemarin. Ketiga perahu itu milik Paidi, 29, Rahman, keduanya nelayan asal Gutem, Puger, yang sedang boro kerja di Grajagan, dan perahu milik Ribut, 27, warga Dusun Grajagan Pantai, Desa Grajagan. "Perahu tenggelam saat akan berangkat kerja," terang Paidi.

Paidi tidak sendirian. Dia ditemani dua rekannya, Gozali dan Tarmi. Tapi, begitu masuk di perairan Plawangan, tiba-tiba ada ombak besar yang menghantam perahunya. "Jungkung tenggelam dan kedua grayungan (dua bambu penyeimbang) patah," katanya.


Tapi beruntung, beberapa nelayan yang melihat kecelakaan laut ini segera datang untuk menolong. Sehingga, ketiga nelayan yang ada di perahu berhasil diselamatkan. "Saya tidak jadi melaut, perahu rusak dan harus diperbaiki dulu," ujarnya.

Sebelum perahu milik Paidi tenggelam, dua perahu lain milik Rahman dan Ribut juga tenggelam dan rusak saat akan kerja melaut. Keduanya, tenggelam begitu tiba di perairan Plawangan. "Ombaknya besar sekali," jelas Ribut.

Sehari sebelumnya, perairan Plawangan yang ombaknya dikenal cukup ganas ini, juga menelan korban. Tiga perahu jenis jungkung milik Suto, 43, Nur Kholis, 23, dan Sudi, ketiganya warga Dusun Grajagan Pantai, Desa Grajagan, juga tenggelam karena diterjang ombak. Perahu milik Suto dan Kholis, karam sekitar pukul 07.00. Sedang perahu milik Sudi terbalik sekitar pukul 11.00, saat akan pulang dari melaut. "Saya akan menolong Kholis, tapai malah karam," jelas Suto pada koran ini kemarin.

Menurut Suto, sekitar pukul 07.00 perahu yang dinaiki Kholis karam di perairan Plawangan saat akan bekerja. Ada perahu tenggelam, Suto bersama Sugiyono dan Sugi mencoba menolong. Tapi sial, sesampai di perairan Plawangan perahunya malah ikut karam karena ada ombak besar yang menerjang. "Perahu saya pecah hingga jadi empat," cetusnya.

Banyaknya perahu yang karam ini, masih kata Suto, akibat datangnya ombak dan angin besar. "Sejak Senin lalu, di daerah perairan Grajagan ini ombak dan anginnya cukup besar, ketinggian ombak sampai tiga meter," bebernya.

Bupati Ratna Bantah Tolak Program BLT


takut Ancaman Sanksi dari Mendagri
BANYUWANGI-Ancaman Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Mardiyanto untuk menindak kepala daerah yang menolak bantuan langsung tunai (BLT), membuat Bupati Ratna Ani Lestari berubah sikap. Bupati Ratna membantah kalau dirinya menolak program BLT yang dikucurkan pemerintah pusat itu.

Bupati Ratna melalui Kabag Humas Abdul Kadir mengatakan, Pemkab Banyuwangi dan bupati tidak pernah menolak kebijakan BLT. Yang ditolak bupati, kata Kadir, adalah data BLT tahun 2005 digunakan lagi untuk pencairan BLT tahun 2008. "Tidak mungkin bupati menolak program bantuan untuk rakyatnya," ujar Kadir.

Penolakan bupati terhadap data BLT tahun 2005, lanjut Kadir, karena kalau menggunakan data tersebut program BLT tidak akan tepat sasaran sesuai target pemerintah. Agar program BLT itu susuai sasaran, maka BPS harus memverifrikasi ulang data BLT tahun 2005 lalu.

Karena itu, beber Kadir, kalau pencairan BLT tahun ini tetap menggunakan data BLT 2005 maka dengan tegas bupati menolaknya. "Kalau menggunakan BLT tahun 2005 akan menimbulkan masalah besar," katanya.

Karenanya, kata Kadir, sebelum melahirkan masalah besar yang merugikan rakyat dan pemerintah, maka bupati menolak data BLT 2005 untuk digunakan pencairan BLT tahun 2008 ini. "Sekali lagi, bukan program BLT-nya yang ditolak bupati tapi penggunaan data BLT 2005," bantahnya.

Data BLT tahun 2005, ungkap Kadir, sudah tidak relevan lagi untuk digunakan pencairan BLT tahun 2008. Rentang waktu tiga tahun setelah pencairan BLT tahun 2005, datanya sudah mengalami banyak perubahan. "Mungkin yang dulunya miskin, sekarang sudah kayat. Sebaliknya, dulu mereka kaya sekarang jatuh miskin," tegasnya.

Agar program BLT itu benar-benar dirasakan masyarakat yang berhak menerimanya, kata Kadir, maka data 2005 itu harus direvisi total sesuai kondisi masyarakat saat ini. "Bupati tidak menghendaki bantuan itu jatuh kepada masyarakat yang tidak berhak menerima," cetusnya.

Kadir menambahkan, kalau data BLT 2005 sudah dilakukan revisi, maka tidak ada alasan bagi pemkab dan bupati untuk menolak pelaksanaan program itu. "Kita ingin program BLT terlaksana secara ideal," tambahnya.

Perjuangan Melestarikan Moc

Melestarikan peninggalan sejarah bisa dilakukan dengan banyak cara. Salah satunya yang dilakukan warga Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Banyuwangi ini. Demi mempertahankan tradisi mocoan lontar yang hampir punah, warga menyelenggarakan pelatihan mocoan lontar untuk anak-anak muda.
Gelapnya malam, hawa dingin, dan hujan turun deras di Desa Kemiren, tidak menyurutkan semangat beberapa pemuda yang tinggal di lereng gunung Ijen. Mereka tetap antusias mengikuti pelatihan mocoan lontar yang diselenggarakan di rumah salah satu tetua adat, Adi Purwanto.
Dengan nyincing sarung, mengenakan jaket dan ada juga yang bercelana pendek agar tidak basah, mereka berduyun-duyun mendatangi rumah di pinggir jalan tersebut. Setelah semua peserta berkumpul, satu per satu diberi lembaran kertas fotokopian. Sambil duduk lesehan di karpet hijau, mereka mendengarkan penjelasan dari tiga instruktur. Ketiga pelatih itu adalah Adi Purwanto, Amun, dan Sutar.
Meski sudah uzur, suara Sutar masih terdengar merdu. Tidak hanya Sutar, suara Kang Pur–panggilan akrab Adi Purwanto, juga enak didengarkan. Berbekal suara merdu itu, dengan telaten Kang Pur memberi contoh bagaimana membaca mocoan lontar yang sudah ratusan tahun jadi tradisi desa tersebut.
Meski pelatihan itu ditujukan bagi pemuda dan remaja Desa Kemiren, ternyata da anak-anak yang berminat. Dia tetap percaya diri, meski berbaur di tengah-tengah kegiatan yang didominasi remaja itu

. Bocah itu adalah Awang Setiadi Aji, 10.
Siswa kelas 3 SD itu tampak serius mendengarkan Kang Pur menembang. Awang terlihat sangat menikmati ketika mulutnya komat-kamit menyuarakan mocoan lontar itu. Meski masih bocah, kemampuannya menembangkan mocoan lontar tidak kalah dengan peserta yang lebih tua usianya. Setelah membaca lontar bersama, mereka mengadakan sesi tanya jawab. Yang dibahas adalah pupu’ (materi, Red) mana yang masih susah dipelajari. Suasana pun bertambah gayeng ketika mereka saling mengajari antara peserta satu dengan yang lainnya. Saking serunya, tidak terasa jarum jam sudah mengarah ke pukul 21.00. Tidak terasa sudah dua jam pelatihan mocoan lontar itu berlangsung.
Begitu belajar mocoan lontar itu bubar, mereka tidak langsung beranjak dari tempat duduknya. Peserta memilih duduk sejenak sembari menikmati segelas kopi yang disuguhkan tuan rumah. Bagi peserta dewasa, kopi hangat itu disruput sembari diselingi menghisap rokok.
Imam, salah satu peserta mengaku sangat tertarik dengan mocoan lontar. Keindahan makna dan cara membacakan lontar mampu menarik hatinya. ’’Kalau tidak kita-kita, siapa lagi yang akan melestarikan tradisi ini,’’ ujarnya usai pelatihan kemarin malam.
Selama ini, tutur Imam, mocoan lontar selalu didominasi bapak-bapak yang sudah tua. Mereka rela berjalan kaki berkilo-kilometer, untuk mengikuti tradisi mocoan yang diadakan dua kali seminggu di Desa Kemiren. Sedangkan pemudanya memilih nongkrong daripada ikut mocoan. ’’Saya mengacungi jempol dengan adanya pelatihan ini,’’ cetus pemuda itu.
Beda Imam, beda Awang. Peserta paling muda itu punya alasan tersendiri untuk menggemari seni baca lontar. Menurutnya, mocoan lontar di Desa Kemiren memang unik. Nadanya berbeda dengan mocoan yang ada di Solo, Jogjakarta, dan daerah lainnya. ’’Makanya saya suka, ’’ ujarnya polos.
Sementara itu, Kang Pur merasa prihatin lantaran saat ini regenerasi mocoan lontar di Kemiren bisa dihitung dengan jari. Padahal, mocoan merupakan peninggalan sejarah yang harus dilestarikan. Untuk itu, dia berinisiatif menggelar pelatihan mocoan untuk kalangan anak muda. Sebab, selama ini mocoan hanya diikuti kalangan bapak-bapak. ”Mocoan ini terbuka untuk siapapun. Bukan untuk kalangan tertentu saja. Semua orang memiliki kemampuan untuk membaca, asalkan mau belajar,’’ tuturnya.
Anggota Dewan Aliansi Masyarakat Adat Nasional (AMAN) Jawa Timur itu menegaskan bahwa kaum wanita juga boleh ikut mocoan. Sayangnya, selama ini masih belum ada yang mau belajar mocoan. Padahal, tidak ada larangan perempuan membaca lontar. ”Tetapi, selama ini masih dibacakan kaum pria saja,” ujarnya.
Pelatihan itu mengajarkan empat materi, yakni Kasmaran, Pangkur, Durmo, dan Sinom. Setahap demi setahap, peserta dituntun dan dibimbing. Selanjutnya, mereka bisa belajar di rumahnya masing-masing. Rata-rata dalam tiga kali pertemuan sudah mampu menguasai satu materi.
Apa kendalanya selama ini? Kang Pur mengakui, kendalanya mencari peserta. Setelah kegiatan itu berjalan, ternyata pesertanya semakin banyak. Bahkan, banyak peminat dari luar Desa Kemiren. Saat ini, pesertanya sudah mencapai 20 orang. Mereka berasal dari berbagai macam profesi. Ada yang bekerja di bengkel. Ada juga yang masih pelajar. Kang Pur berharap, dengan adanya pelatihan itu bisa melestarikan tradisi mocoan di Kemiren.
di sadur dari lareosing.org

Padang rumput Sadengan (TN. Alas Purwo) perlu penanganan serius


Ujung timur Pulau Jawa adalah salah satu tempat terbaik bagi kegiatan wisata alam. Betapa tidak, kawasan ini menawarkan atraksi wisata yang beragaman, dan bahkan banyak diantaranya adalah khas dan unik. Namun demikian, pertanyaan mendasar yg saat ini timbul adalah apakah tempat-tempat dan atraksi tersebut mempunyai masa depan? Lebih jauh jika mau dipersoalkan, apakah generasi mendatang masih akan menikmati keindahan panorama alam dan warisan budaya Banyuwangi yang telah mendunia?

Padang rumput Sadengan adalah padang rumput semi alami yang terdapat di kawasan Taman Nasional Alas purwo, Semenanjung Blambangan di Kabupaten Banyuwangi. Disebut sebagai padang rumput semi alami karena pada faktanya, keberadaan padang rumput ini bukanlah secara alamiah terjadi. Padang rumput ini sebenarnya muncul karena kerusakan-kerusakan beberapa petak hutan di masa lampau yang kemudian menimbulkan spot-spot padang rumput pada hamparan hutan di Semenanjung Blambangan. Hilangnya kanopi dan tutupan tajuk dalam waktu yang lama membuka peluang bagi bermacam rumput untuk tumbuh, dan kemudian dimanfaatkan oleh berbagai satwa sebagai salah satu habitat pentingnya. Karena padang rumput ini dahulunya menyediaan pakan berlimpah bagi herbivora di Semenanjung Blambangan, pengelola memandang bahwa Sadengan adalah tempat ideal bagi konservasi satwa liar seperti Banteng, Rusa, Babi hutan dan aneka ragam satwa lainnya. Untuk merealisasikin gagasan konservasi tersebut, sebuah

Tourism planning and management,

aktifitas campur tangan manusia dimulai dalam tahun 1970’an dengan meningkatkan kapasitas padang. Kegitan peningkatan kapasitas habitat ini antara lain adalah dengan membersihkan kawasan dari berbagai tetumbuhan yang menghalangi rumput tumbuh, menanan rumput, membuat irigasi teknis untuk mengairi padang, dan melakukan pembinaan terhadap padang. Pertamakali sejak padang ini dikelola, satwa liar tercatat sangat melimpah di padang rumput. Mungkin jumlahnya sama dengan apa yang digambarkan oleh peneliti Eropah jauh sebelumnya. Catatan oleh van Steenis, (1937), mengatakan bahwa jumlah banteng bias mencapai angka sekitar 100 ekor dalam satu pengamatan.

Di Pulau Jawa, pemandangan padang rumput dengan berbagai satwa di dalamnya adalah sangat langka, sehingga mengundang hasrat pada pelancong untuk mengunjungi padang rumput sadengan. Menyadari potensi wisata yang ada didalamnya, sebuah menara pandang dibangun untuk memfasilitasi kegiatan pengamatan satwa. Berbagai promosi wisata kemudian dengan gencar mempromosikan Sadengan dan reputasinya sebagai The Last Habitat of wildlife in Java Island. Peran dari Sadengan dalam membangun image wisata kabupaten Banyuwangi juga sangat signifikan.

Namun demikian, apakah Sadengan mempunyai masa depan? Penelitian yang dilakukan oleh penulis menunjukkan bahwa perlu kerja keras untuk menyelamatkan Sadengan. Jika mau ektrim, dalam jangka waktu 5-10 tahun lagi, Sadengan tinggal cerita. Mengapa demikian? Jawaban yang pasti karena kerusakan habitat yang sudah sangat kronis, terus-menerus terjadi dan ada indikasi tidak akan tertangani. Apakah sudah tamat? Belum, dengan catatan bahwa manajemen secara terintegratif harus segera dilakukan. Jika saat ini pengendalian dan kontrol terhadap kualitas padang rumput menjadi perhatian utama Taman Nasioanl Alas Purwo sebagai pemangku kawasan, maka seyogyanya pemerintah daerah dan masyarakat mulai bergerek untuk menyelamatkan Sadengan. Ini penting, karena Sadengan adalah salah satu aset berbarga. Jumlah banteng di dunia ditaksir berkisar 1000 ekor, dan jumlah ini terus menyusut karena hancurnya habitat banteng. Bisa jadi, suatu saat, manyarakat dunia harus pergi ke Banyuwangi untuk melihat banteng, seperti manyarakat dunia harus pergi ke TN. Komodo untuk melihat komodo, hewan prasejarah yang hanya hidup di NTT. Namun, tentunya dengan catatan habitat banteng harus diselamatkan sebelum bermimpi hal tersebut.

Padang rumput Sadengan saat ini dalam tekanan dan stress berat karena serbuan dua spesies tumbuhan utama yang menjadi kanker dan tumor ganaspadang rumput. Tumbuhan pertama adalah Cassia tora, termasuk dalam tumbuhan polong-polongan (Fabaceae) ini tumbuh hampir menutupi permuknaan padang rumput. Tumbuhan kedua, yang tak kalah ganasnya adalah Eupathorium inulifolium, kelompok tumbuhan compositae, yang tak kalah pentingnya dalam merubah wajah Sadengan. Belum lagi, ancaman serius dari berbagai tumbuhan invasive seperti Lantana camara. Data-data yang dimiliki oleh penulis menunjukkan bahwa tiga macam tumbuhan ini mempunyai indek nilai penting tertinggi diantara tetumbuhan lain di padang rumput. Sebagai contoh, rumput-rumput Cyperus yang berperan sebagai sumber pakan utama satwa herbivore malah mempunyai indek yang kecil, menunjukkan kecilnya dominansi, densitas dan frekuensi tumbuhan tersebut. Dampaknya tentu fatal. Salah satunya adalah berkurannya jumlah banteng yang mengunjungi Sadengan. Kegiatan monotoring yg dilakukan oleh penulis mengindikasikan jumlah satwa banteng turun secara terus menerus.

Pihak taman nasional bukannya tidak menyadari dan mengambil tindakan. Serangkaian tindakan telah dilakukan sejak tahun sepuluh tahun yang lalu dalam mengendalikan species pengganggu tersebut, antara lain dengan pembabatan, pembakaran dan berbagai cara lain. Namun, hasilnya adalah nihil. Artinya tindakan tersebut tidak banyak berarti. Sampai dengan akhir musim hujan 2008 kemarin, data yang dimiliki penulis menyatakan bahwa semaian-semaian tumbuhan invasive tersebut masih sangat besar. Sebagai gambaran, jumlah semaian E. Inulifolium mencapai 90.22 individu dalam plot berukuran 1×1 meter persegi untuk di tengah padang, dan 50.45 individu di pinggir hutan. Hanya dibawah rimbunan pohon saja jumlahnya berkuran, yaitu 10.23 individu. Itu terjadi karena memang naungan pohon cenderung menghambat tumbuhan di bawahnya untuk tumbuh dan berkembang. Untuk tumbuhan Cassia tora, secara berturut-turut tercatat lebih besar dan padat, mencapai 580.77 di area terbuka, 550,41 di sekitar hutan dan 75,02 di bawah kanopi pohon. Selanjutnya ukuran-ukuran fisiologi yang lain juga berbeda secara signifikan. Ini adalah jumlah yang besar. Dan yang pasti menjadi signal yang kuat bahwa teknik pengendalian selama 10 tahun ini gagal, dan tubuhan invasive tetap menjadi ancaman kronis, dan selajutnya jangan berharap melihat banteng melimpah di padang rumput. Jadi, jika tidak ada peran serta masyarakat, hilangkan mimpi anda menikmati suasana seperti di Afrika.

Sebagaimana telah saya sampaikan diatas, sebuah manajemen secara terpadu dan terencana mendesak untuk dilakukan. Pengendalian yang terjadi saat ini, sebagaimana insitusi pemerintahan, sangat tergantung dari dana proyek Departemen Kehutanan di pusat yang kadang-kadang tidak sesuai dengan kebutuhan di lapangan. Dengan demikian, sekali lagi, mengorganisir dan menggerakkan masyarakat adalah salah satu pilihan yang mungkin. Selaian itu, tentunya pemkab Banyuwangi juga sangat berperan penting. Sadengan telah memberikan sumbangan dalam penerimaan PAD dalam sektor wisata, dan telah melambungkan nama Banyuwangi di tingkat internasional karena simbol-simbol banteng dan padang rumputnya. Tidak fair tentunya jika Sadengan hanya diperas hasilnya, tapi tidak diperhatikan hak-haknya, yaitu pemulihan habitatnya. Ada banyak LSM, pecinta alam, siswa sekolah, pemerhati lingkungan dan kelompok masyarakat lainnya yang dapat diberdayakan. Sasarannya jelas, yaitu mencegah meluasnya penyakit kronik Sadnegan dan mengembalikan kejayaan Sadengan. Kegiatan mencabut tumbuhan sampai seakar-akarnya sebelum tumbuhan menghasilkna biji untuk menyambung populasinya di masa depan adalah kegitan kecil yaang bisa dikoordinasikan. Namun demikian, perlu diingat bahwa mobilisasi masyarakat dalam jumlah yang besar juga sangat berpotensi untuk membuat satwa liar stress. Untuk itu, diperlukan sebuah pengaturan kegiatan yang secara teknis mampu mengendalikan serangan tumbuhan pengganggu, dan secara ekologis tidak mengganggu satwa liar. Sebuah lembaga pemerhati Banteng dan Padang Rumput Sadengan sudah saatnya muncul untuk menyelamatkan aset bumi Blambangan.

Catatan. Sumber utama diambil dari tulisan berjudul: Invasive Plant Species and the Competitiveness of Wildlife Tourist Destination: A case of Sadengan Feeding Area at Alas Purwo National Park. Hakim, et al,. 2005. Journal of International Development and Cooperation. 12 (1): 35-45

Iran scientific savvy 'amazes world'


Iran's space breakthrough shows that the country can make scientific progress without any help from the West, says a French strategist.

Bruno Tertrais, a senior fellow at the Foundation for Strategic Research (FSR), said Friday that Iran's launch of a domestically-built satellite shows that the country has pushed back the boundaries of space research and technology.

"Iran has repeatedly shown that it is powerful, self-sufficient and has absolutely no need for Western help and backing," said Tertrais, maintaining that Iran "amazes" the world every six months with its scientific prowess.

The strategist added that Iran's independence in its aerospace industry has become "an object of national pride", L'Express reported.



Tehran placed a domestically-built satellite into orbit on Tuesday -- becoming the ninth country in the world capable of both producing a satellite and sending it into space from a domestically-made launcher.

The Omid data-processing satellite is designed to circle the Earth 15 times every 24 hours and to transmit data via two frequency bands and eight antennas to an Iranian space station.

Tertrais said Washington is likely to use Iran's satellite launch as a pretext to justify the deployment of a US missile system in Eastern Europe.

The Bush administration strived to portray Iran's uranium enrichment, missile program and space technology as a threat to world stability in order to install a ballistic missile shield in Poland and the Czech Republic.

Russia has remained strongly opposed to the plan, threatening to respond by installing short-rage Iskander-M missiles in Kaliningrad, a small strategic exclave near Poland.

"No sensible person believes in fairy tales about the Iranian missile threat, and that thousands of kilometers from Tehran on the coast of the Baltic Sea, it is necessary to station a missile interceptor system," Russia's NATO envoy Dmitry Rogozin said on Nov. 6.