Minyak 2009 Turun 17 Ribu Barel


Jakarta, IEW ? Produksi minyak Indonesia tahun 2009 diproyeksi 960 ribu bph (barel per hari). Ini berarti turun 17 ribu bph dibanding produksi minyak Indonesia tahun ini (2008) yang mencapai 977 ribu bph. Meski diproyeksikan turun, Badan Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas Bumi (BP Migas) berupaya meningkatkan produksi dengan terus melakukan konsolidasi internal dan eksternal. ?Konsolidasi internal dan eksternal yang dilakukan BP Migas adalah perbaikan managemen dan administrasi. Kalau kita berubah maka stake holder juga akan berubah, dan eksternal juga harus kita dekati yakni dengan cara komunikasi dan lain sebagainya,? kata Raden Priyono, Kepala BP Migas, kepada pers dalam paparan akhir tahun BP Migas bertajuk ?Pencapaian Tahun 2008 dan Tantangan-Harapan Industri Hulu Migas Indonesia?, di Jakarta, Selasa (23/12/2008). Menurut Priyono, melalui komunikasi, transparansi dan kepercayaan, upaya meningkatkan produksi minyak akan tercapai. Ia mencontohkan, produksi minyak dan liffting yang mengalami penurunan untuk 2007-2008 mengakibatkan penerimaan negara juga menurun. ?Kesan yang saya tangkap, ini nampaknya mengenai transparansi

dan komunikasi yang kurang baik antara stake holder, dewan perwakilan rakyat, pemerintah maupun instansi lainnya,? ujarnya. Priyono mencontohkan, bahwa pada tahun 2008, pihaknya dengan Indonesian Petroleum Accociation (IPA) pernah marah besar. Tapi, pihaknya bisa duduk bersama lagi dengan IPA untuk lebih meningkatkan produksi minyak nasional. ?Sehingga BP Migas dan IPA mampu memberikan kontribusi terhadap negara,? ungkapnya. Ia juga menambahkan, tentang ephoria otonomi daerah yang seringkali menjadi hambatan bagi peningkatan produkasi minyak. ?Ini yang dirasakan oleh beberapa kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) mengenai perijinan,? kata Raden Priyono. Dalam paparan laporan pencapaian BP Migas selama tahun 2008, Priyono mengemukakan tentang jumlah KKKS di wilayah kerja (WK) baru yang bertambah. ?Ada 41 kontrak, terdiri dari 34 kontrak PSC (production sharing contract) dan kontrak gas methana batubara (GMB),? katanya. Sehingga, lanjut Priyono, pada akhir tahun 2008 terdapat 64 wilayah kerja produksi dan 139 wilayah kerja eksplorasi dengan total sebanyak 203 wilayah kerja. ?Sebagian besar KKKS baru berada di wilayah Indonesia Timur. Berada pada cekungan yang belum pernah dibor atau sudah dibor namun belum ada penemuan,? ungkap Priyono. ?Jumlah pemboran dan sumur cukup besar temuannya serta cukup signifkan yakni rasionya sekitar 49 persen,? tambahnya. Priyono juga menyebut perkembangan cadangan minyak dan kondensat mengalami kenaikan kurang lebih 4000 MMSTB, dan perkembangan cadangan minyak dan gas yang terbukti sebesar 23.138 MMBOE. ?Hingga akhir tahun 2008, perkiraan realisasi stock lifting mengalami peningkatan 101,1% yakni dari 977.000 menjadi 988.060 BOPD,? ujarnya. Disinggung tentang turunnya proyeksi produksi Indonesia, Priyono menyebut karena terkait dengan menurunnya produksi Chevron Indonesia. Kendati ada tambahan produksi dari Chevron dan Pertamina yang menggarap ladang Blok Cepu, namun tidak mampu menelibihi turunnya produksi Chevron dari sumur minyak di Riau yang kian menua