cinta kasih dalam keluarga


Matahari tampak begitu cerah, udara pagi begitu sejuk, seperti biasa Ali dan Zahra bersiap-siap untuk pergi ke sekolah. Mereka berdua pergi ke sekolah dengan berjalan kaki. Hasan, ayahnya hanya sebagai seorang buruh pabrik. Hasanpun ikut bersiap-siap hendak pergi ke pabrik. Hasan hanya mempunyai sepeda untuk dapat berangkat ke pabrik. Laila, seorang istri yang hanya membuka warung makan di rumahnya. Laela dan Hasan hanya dikaruniai oleh Allah dua orang anak yaitu Ali dan Zahra. Mereka berdua tidak terlampau jauh umurnya. Hanya beda dua tahun. Keluarga ini hidup dengan sederhana. Prinsip keluarga ini adalah selalu mensukuri nikmat yang telah diberikan dari Allah SWT. Keluarga ini tidak mau memakan makanan yang mewah, yang penting makanan itu barokah dengan harta yang halal. Keluarga ini selalu menumbuhhkan rasa saling mencintai dan mengasihi.

Ali masih duduk di kelas 4 SD sedangkan Zahra duduk di kelas 2 SD. Mereka berdua dididik orang tuanya untuk saling mencintai dan menyangi satu sama lain. Orang tuanya juga mengarahkan kepada mereka supaya saling mencintai kepada sesama teman. Mereka berdua disenangi oleh teman-temannya karena Ali dan Zahra tidak membeda-bedakan teman dalam bergaul. Mereka berdua merupakan anak yang pandai, baik dan ramah terhadap semua orang.
Pada hari sabtu, setelah pulang dari sekolah, Ali disuruh ibunya untuk pergi ke pasar, untuk membeli buah apel sekaligus disuruh untuk mengesolkan sepatu Zahra yang sudah robek. Ali pun berangkat dengan berjalan kaki, karena jarak antara pasar dengan rumahnya tidak terlalu jauh. Ali memang orangnya penakut terhadap orang tuanya. Setelah di pasar Ali langusng mengosolkan sepatu Zahra. Ali menunggunya sampai selesai. Setelah selesai, Ali membayarnya dan langsung membeli buah dengan membawa sepasang sepatu Zahra yang dibungkus dengan tas plastik hitam. Ali menaruh sepatu Zahra di dekat tumpukan plastik lain. Tak disangka-sangka, tas plastik hitam ikut terbuang ke tempat penampungan sampah oleh tukang sampah.
Hal ini diketahui dari pedagang buah tadi bahwa tas plasti di situ untuk dibuang ke tempat penampungan sampah. Setelah selesai, Ali langsung membayarnya dan mengucapkan terima kasih kepada pedagang tersebut. Ali mulai mencari ke tempat penampungan sampah, barangkali masih ada. Dan Ali mulai menyakan kepada tukang sampah, barangkali masih ada. Dan mereka semua menjawab tidak tahu. Dan Ali pulang dengan rasa cemas, karena Ali mengetahui bahwa itu satu-satunya sepatu milik adiknya. Bagaimana Zahra mau berangkat sekolah pada hari senin besok, kalau tidak ada sepatu, pikir Ali. Setelah sampai di rumah, Ali langsung memberikan buah apel tadi kepada ibunya. Ibunya dengan kasihnya menyatakan terima kasih kepada Ali. Ali tidak mau mengatakan tentang sepatu adiknya itu kepada orang tuanya. Ali langsung berkata kepada Zahra, “Zahra maafkan kakak, ya? Sepatu kami hilang, jangan marah sama kakak ya?” Lalu Zahra menjawab, “Lalu besok senin Zahra bagaimana, kak? Itu kan sepatu satu-satunya Zahra. Nanti Zahra akan mengatakan kepada Abi lho.” Zahra, jangan katakan sama Abi ya. Nanti kakak dimarahi oleh Abi. Lalui Zahra sekolahnya bagaimana? Begini saja, bagaimana kalau Zahra memakai sepatu kakak. Tapi khan sepatu kakak besar? Tidak apa-apa. Kakakn tidak mempunyai uang untuk mengganti sepatu Zahra. ya sudah kalau begitu, nanti Zahra akan mencoba dahulu. Dengan kasih sayangnya Zahra kepada Ali, maka walaupun kebesaran tetapi begitulah adanya.
Kebetulah si Ali masuk siang, dan Zahra masuk pagi. Kalau pagi hari sepatu Ali dipakai Zahra. Dan siang hari dipakai Ali. Kejadian ini tidak diketahui oleh orang tuanya. Zahra juga senang melakukan hal ini. Mereka berdua saling mencintai satu sama lain dan selalu berbagi kasih sayang. Tetapi tentunya hal ini mengakibatkan Ali sering terlambat. Dan keterlambatan Ali diketahui oleh Guru BP-nya dan Ali disuruh pulang. Ternyata di situ ada guru kelasnya, dan menjelaskan supaya Ali boleh masuk kelas, karena Ali anak yang baik dan pandai di kelasnya. Dan Ali merasa senang dan mengucapkan terima kasih kepada guru kelasnya.
Setelah Ali pulang sekolah, ternyata ibunya sakit dan Zahra sedang merawat ibunya. Tidak lama kemudian, Hasan pulang dari bekerja. Dan Hasan langsung merawat Laila di rumahnya dengan penuh kasih dan sayangnya. Ali dan Zahra segera mengerjakan pekerjaan rumah seperti biasa tanpa diperintah lagi, untuk membantu Laila yang sedang sakit. Laila sakit selama tiga hari. Alhamdulillah cepat sembuh, hanya terlalu lelah dengan pekerjaannya di rumah dan kondisi tubuhnya memang lemah. Selang beberapa hari, setelah itu, ada musibah yang menimpa keluarga ini yaitu adanya PHK buruh, sehingga Hasan bingung untuk mencari pekerjaan lain. Kebetulan hari ini libur satu minggu untuk anak sekolah. Sehingga Hasan ditemani Ali untuk mencari pekerjaan lain yaitu menjadi tukang kebun di rumah orang lain. Dengan naik sepeda mereka berdua mencari rumah yang sedang membutuhkan tukang kebun. Akhirnya dengan jerih parayhnya, mereka menemukan rumah tersebut. Rumah itu halamannya luas sekali dan mewah, sehingga membutuhkan tukang kebun. Ali membantu Abinya, setelah selesai, Ali bermain dengan seorang anak yang satu umur dengannya, namanya Aan. Aan ini anaknya yang mempunyai rumah tadi. Mereka berdua kelihatan akrab sekali dan dengan penuh kasih sayang mereka bercanda dan bermain bersama. Setelah sore hari, Hasan dan Ali pulang dan mendapatkan upah. Hasan dan Ali senang sekali atas pekerjaan tadi. Di jalan pada saat mereka menuju ke rumah, mereka berdua mendapat kecelakaan tetapi tidak parah sehingga masih bisa mengendarai sepeda untuk sampai ke rumah.
Setelah sampai rumah, Laila khawatir melihat suaminya terluka. Dengan penuh kasih, Laila merawat suaminya. Alhamdulillah lukanya bisa sembuh dalam waktu tiga hari, sehingga Hasan bisa melanjutkan pekerjaan barunya lagi.
Hari libur sekolah telah usai, seperti biasa lagi bahwa Zahra harus memakai sepatunya Ali. Setelah itu pulang dilanjutkan Ali berangkat ke sekolahnya. Mereka dengan penuh kasih sayang tidak pernah mengeluh hal ini. Di sekolah Ali tiba-tiba ada pengumuman bahwa ada lomba lari cepat diikuti oleh kelas 4,5,6 SD. Ali melihat hadiahnya. Teryata ada hadiah sepatu untuk juara ketiga. nah ksempatan baik buat Ali untuk memberikan kepada adiknya kalau menang nanti. Dan Ali dengan peenuh semangat medaftarkan diri kepada Guru olah raga untuk mengikuti lomba tersebut.
Satu minggu sebelum lomba igu dimulai, murid-murid yang mendaftarkan diri kepada Guru Olahraga harus diseleksi dan ternyata dari Sdnya Ali mengirimkan 3 orang yaitu Ali, Udin, dan Budi. Ali memberitahukan hal ini kepada adiknya dengan gembira dan Ali berharap supaya bisa mendapatkan juara ketiga supaya mendapatkan hadiah sepatu untuk diberikan kepada Zahra. Zahrapun senang mendengar berita ini. Zahra memberikan semangat untuk kakaknya.
Tibalah waktu lomba dimulai. Tentunya yang mengikuti lomba ini jumlahnya tidak sedikit, kurang lebih 100 orang. Jaraknya cukup jauh. Tetapi Ali selalu mengingat wajah Zahra yang menginginkan sepatu itu. Tiba-tiba saja dari belakang tidak sengata ada yang menabrak Ali sehingga Ali jatuh. Tetapi Ali tetap berusaha untuk terus berlari demi meraih juara tiga itu. Dengan tekad dan semangat, Ali tetap berlari dengan kencang. Ali selalu mengingat wajah adiknya pada saat lari, sehingga Ali semakin bersemangat dalam lari untuk mendapatkan sepatu itu. Ternyata disadari oleh Ali, sudah akan mencapai garis finish dan di situ ada 5 orang. Dan Ali berharap nanti pada saat di garis finish Ali mendapatkan juara tiga. Tak terasa dengan semangatnya Ali terus semakin kencang untuk berlari dan akhirnya Alilah yang mendapat juara satu karena Ali yang sampai dahulu ke garis finish. Ali kelihatan tidak begi gembira karena ia mendapatkan piala, sedangkan ia telah janji kepada adiknya akan mendapatkan sepatu pada lomba lari ini. Ali pulang dengan kecewa dan mengatakan kepada Zahra bahwa Ali tidak bisa mendapatkan sepatu itu, tetapi Ali mendapatkan juara satu yaitu ppiala. Dan Zahra tetap tersenyum dan menyatakan kepada Ali bahwa kakak hebat.
Setelah Hasan menjadi tukang kebun di rumah itu, memang tidak seberapa upah yang didapatnya tetapi Hasan ingin membelikan kepada putrinya sepatu baru di hari lahirnya besok. Hasan selama ini tidak mengetahui apa yang terjadi paa sepatu Zahra. Setelah pulang dari pekerjaannya, Hasan langsung menuju ke toko sepatu untuk membelikan sepatu putrinya itu> sampai di rumah, sepatu iitu dibungkus dan diberikan besok pada saat hari lahirnya Zahra. Dan keesokan harinya, Hasan langsung memberikan kepada putrinya yang manis. Zahrapun kelihatan gembira dan senang sekali. Ali juga mengucapkan selamat hari lahir kepada adiknnya dan memberikan sebuah pensil. Ibunya juga mengucapkan selamat hari lahir kepada Zahra dan memberikan lima buku untuk putrinya tercinta. Sisa uang dari upah bekerja itu selalu diberikan kepada istrinya. Karena istrinya yang mengatur keuangan rumah tangganya. Walaupun keluarga ini hidup dengan sederhana tetapi keluarga ini selalu mensukuri rezeki yang telah Allah SWT berikan kepada kami semua. Lailapun gembira mempunyai kedua anak yang saling hidup rukun dan saling mengasihi dan Laila juga bersyukur mempunyai suami seperti Hasan yang dengan susah payah mau bekerja keras untuk menghidupi keluarga ini. walaupun dengan upah yang sedikit tetapi cukup untuk memenuhi keebutuhan sehari-hari mereka semua. Yang terpenting bahwa rezeki itu halal dan mendapatkan barokah dari Allah SWT dan hidup mereka bahagia, sakinah, mawaddah, warrohmah.