Utsawa Kidung Jawa Pestanya Sinden Hindu


KESENIAN tidak bisa dilepaskan dari kegiatan ritual Hindu, juga di Banyuwangi. Sebagai penganut budaya Jawa, umat Hindu di ujung timur Jawa Timur ini tidak pernah meninggalkan tradisi warisan leluhur ketika melaksanakan kegiatan keagamaan. Misalnya, kebiasaan melantunkan gending Jawa. Membaca kitab suci pun tetap menggunakan gending dan bahasa Jawa.

Tradisi turun-temurun inilah yang melahirkan banyak sinden (penyanyi Jawa) di Banyuwangi. Rata-rata sinden berangkat dari seni gending Jawa. Banyak sinden dari kalangan penganut Hindu. Kenyataan ini turut membuat tradisi Jawa tetap lestari, mengingat budaya Jawa tumbuh seiring kegiatan ritual yang tiada henti.

Sayangnya, belum ada wadah khusus untuk menampung para sinden di kalangan umat Hindu. Mereka berkreasi secara terbatas dengan bergabung dalam kelompok karawitan Jawa.

Ancaman punahnya tradisi sinden ini menggugah para petinggi Hindu Banyuwangi untuk bergerak. Salah satu upayanya menggelar pesta sinden dalam utsawa kidung Jawa yakni lomba melantunkan gending-gending Jawa bermuatan ajaran Hindu. Festival yang baru pertama kali terselenggara ini disambut antusias ratusan sinden yang tersebar di 14 kecamatan di Banyuwangi.

Biasanya, utsawa cenderung melantunkan kidung Bali. Padahal, hampir 90% penganut Hindu di Banyuwangi suku Jawa. Utsawa kidung Jawa ini mendapat dukungan luas, termasuk dari Pemkab Banyuwangi dan Dewan Kesenian Blambangan.

Utsawa kidung Jawa yang berlangsung di wantilan Kampung Bali, Kota Banyuwangi ini, menjawab kerinduan para sinden yang memerlukan pengakuan tentang keberadaannya. Selama ini mereka hanya makidung dari pura ke pura. Hanya beberapa orang yang berkesempatan manggung di depan masyarakat luas.

Layaknya kontes penyanyi, para sinden juga menyiapkan atribut dengan matang, dari kostum hingga nada yang akan digunakan. Sinden tak pernah lepas dengan busana Jawa, kebaya dan kain panjang serta sanggul besar.

Lomba digelar berkelompok. Masing-masing kecamatan mengirim satu regu. Satu regu karawitan disiapkan mengiringi lantunan gending yang dilombakan. Di Kampung Bali ratusan sinden berjalan berlenggang-lenggok menuju panggung diiringi suara gamelan Jawa.

Ada tiga gending (lagu) yang wajib dilantunkan. Peserta wajib membaca kitab Bagawaghita dan Sarascamuscaya menggunakan langgam dan bahasa Jawa. Kemudian disusul melantunkan gending Jawa sebagai lagu penutup. Masing-masing regu membutuhkan waktu 10-15 menit.

Dewan juri terdiri atas pakar kidung Jawa di Banyuwangi, yakni praktisi seni dan dalang senior. Yang dinilai, penampilan, keserasian, ekspresi, irama, dan pengucapan gending. Cengkok (irama) yang digunakan jenis mas kumambang, sedangkan pembaca sloka suci atau palawakya menggunakan bahasa Jawa. Jenis kidung menggunakan bowo dilanjutkan dengan ketawang kinanti. Semua liriknya bermuatan ajaran Hindu.

Utsawa kidung Jawa digelar untuk melestarikan tradisi dan budaya Jawa, sekaligus sebagai tonggak bangkitnya budaya Hindu Jawa di Banyuwangi. Umat Hindu di sini mayoritas suku Jawa. Karena itu Parisada Hindu Dharma Indonesia membuat kebijakan untuk melestarikan budaya Jawa lewat lomba kidung, kata Ketua PHDI Kabupaten Banyuwangi I Wayan Artha.

Jumlah umat Hindu di Banyuwangi sekarang ini sekitar 40.000 jiwa.
Direncanakan utsawa kidung Jawa akan menjadi agenda tahunan. Penyelenggaraannya dikaitkan dengan perayaan hari jadi Kota Banyuwangi. - udi

Sinden Kabur Karawitan Masuk Pura

AKIBAT terbentur masalah ekonomi rumah tangga, banyak sinden di Banyuwangi beralih menjadi tenaga kerja wanita (TKW) yang bekerja di luar negeri. Honor sinden sangat sedikit. Sinden muda yang berbakat harus pergi dan tidak selalu ada penggantinya. Sepulang dari luar negeri, banyak sinden yang enggan manggung lagi.

Menyusutnya jumlah sinden dikeluhkan Sumini (50), Ketua Paguyuban Karawitan Wanita Hindu dari Desa Sambirejo, Kecamatan Bangorejo, Banyuwangi. “Setelah bersusah payah membuat paguyuban, akhirnya banyak sinden kabur ke luar negeri,” ujarnya.

Kelompok karawitan yang diberi nama Dharma Marga ini terbentuk tahun 1996, awalnya memiliki 11 penabuh wanita dan enam sinden. Selain sebagian anggotanya memilih bekerja di luar negeri, ada juga, terutama sinden, yang berhenti setelah berkeluarga.

Mencari sinden baru tidak gampang. Banyak remaja yang merasa tidak bangga berprofesi sebagai sinden. Kini yang tersisa hanyalah sinden tua.
Awalnya Sumini optimis bisa merangkul kaum ibu dan remaja untuk melestarikan kesenian Jawa. Langkah yang ditempuhnya membawa seni karawitan masuk pura.

Tiap ritual keagamaan Hindu diselingi gending dan gamelan Jawa. Langkah ini mendapat respons positif kaum ibu. Akhirnya terbentukah Paguyuban Karawitan Wanita Hindu.

Sayang, di tengah perjalanan, para ibu mulai kendor. Padahal, peralatan sudah tersedia lengkap. Harganya tidak murah. Di Banyuwangi satu set gamelan Rp 20-30 juta.

Namun, Sumini tak patah arang. Bersama suaminya, Sutrisno, seorang pemangku pura, dia terus berjuang merekrut remaja untuk belajar gending Jawa. Upaya ini membuahkan hasil. Beberapa remaja tertarik belajar gamelan dan kidung Jawa. Para ibu yang tersisa juga diaktifkan kembali.

Alhasil, karawitan yang sempat mati suri ini bangkit lagi. Undangan manggung pun mengalir, terutama dari kalangan umat Hindu. Karawitan ini selalu diundang saat berlangsung kegiatan piodalan di pura.

Untuk memberi semangat anggota, honor yang didapat dibagi secara terbuka. Uang jasa tanggapan dimasukkan ke kas perkumpulan. Jika banyak, biasanya sebagian dibelikan baju seragam. Sisanya dipakai biaya kegiatan tirtayatra.

Sebagai pemimpin grup kesenian, Sumini harus rela berkorban, bahkan bersedia tidak mendapat bayaran. Yang penting saya bisa melayani umat, katanya. Darah seni yang mengalir dari leluhurnya menjadikan Sumini tegar untuk terus melestarikan budaya Jawa sejak pertama berkecimpung dalam kegiatan ini tahun 1978. - udi

Semalam Suntuk Rp 100 Ribu

MENJADI sinden harus siap berkorban. Honor yang diterima tak sebanding dengan tenaga yang dikeluarkan. Namun, berkat motivasi seni yang tinggi, banyak wanita yang tetap melakoni profesi itu. Sebagaimana Diah Palupi (39), sinden asal Desa Sambirejo, Kecamatan Bangorejo, Banyuwangi.

Sinden bukan pekerjaan, tetapi hanya tempat menyalurkan hobi, ujarnya. Dalam sekali manggung, Diah, panggilan akrabnya, dibayar Rp 100 ribu. Padahal ketika manggung, seorang sinden harus begadang semalam suntuk. Selama itu, dia harus bernyayi dengan nada tinggi. Ada 300 gending yang bisa dipilih.

Sebelum menjadi sinden, Diah adalah penganut Hindu yang taat. Dari sinilah keberuntungan itu muncul. Dia selalu rajin melantunkan kidung Jawa ketika ada persembahyangan di pura. Suaranya yang merdu akhirnya dilirik para dalang kondang di Banyuwangi.

Hobi yang dilakoni sejak muda ini diwarisi dari keluarganya. Sejak tahun 2000, dia akhirnya dilamar untuk bergabung dengan dua dalang wayang kulit kondang di Banyuwangi, Ki Sarjono dan Ki Juwito Gendeng. Sejak itulah namanya terus melejit dan pesanan manggung selalu mengalir.

Bekerja di bidang kesenian juga memerlukan pengertian keluarga. Beruntung, Diah memiliki pasangan yang juga penggemar kesenian. Suaminya itu calon dalang. Ketika Diah manggung, suaminya selalu mengantarnya.

Diah berharap banyak remaja mau belajar seni olah vocal ini. Selama ini, banyak sinden mewarisi keterampilan dari garis keturunan. Padahal, kata Diah, keterampilan sinden bisa dipelajari.

Dalam kesenian Jawa dikenal dua jenis laras, pelog dan slendro. Dua laras dasar inilah yang berkembang menjadi ratusan gending Jawa. Gamelan Jawa biasanya terdiri atas 12 jenis.

Satu set gemelan Jawa mampu membangkitkan semangat religi ketika digabung dengan gending Jawa bermuatan ajaran agama. Inilah yang menguatkan sinden untuk terus berkreasi. Ada warna rohani di dalamnya, kata Diah.