TKW Dipulangkan Tanpa Gaji Tujuan Taiwan, Dikirim ke Tiongkok

Satu lagi Tenaga Kerja Wanita (TKW) asal Banyuwangi, menerima perlakuan tidak wajar di negara tempat kerjanya. Kali ini, pahlawan devisa yang bernasib malang itu Tumini, 34, asal Dusun Ringinagung, Desa/Kecamatan Pesanggaran.

Ibu satu anak yang bekerja menjadi pembantu rumah tangga (PRT) di Macau, Tiongkok itu, dipulangkan oleh juragannya karena dianggap sering sakit. Ironisnya, TKW yang sudah bekerja selama tiga bulan ini, tidak pernah menerima bayaran. "Saya diberi tiket dan disuruh pulang," cetus Tumini.

Tumini tiba di rumahnya Dusun Ringinagung, Desa Pesanggaran, sekitar pukul 11.30 kemarin, dengan diantar oleh relawan dari Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI) Cabang Banyuwangi. Sesampai di rumah, langsung disambut oleh sang suami Mishadi. "Kami bekerja sangat berat, jadi sering sakit," katanya.

Meski pernah sakit, Tumini mengaku bekerja di rumah juragannya itu sampai tiga bulan lamanya. Selama bekerja, dirinya tidak pernah menerima bayaran sepeserpun. "Majikan membayar pada agen, tapi tidak diserahkan pada saya," ujarnya.

Relawan SBMI Banyuwangi Mariyatul Kiptiyah pada koran ini mengatakan, Tumini ini diduga menjadi salah satu korban kekerasan TKW yang melibatkan agen penyaluran. "Sebelum diterbangkan, korban ini sempat menginap di kantor PJTKI hingga tujuh bulan lamanya," jelas kordinator devisi pendidikan, integrasi dan advokasi SBMI Banyuwangi ini.

Menurut Kiptiyah, TKW asal Banyuwangi yang saat ini bermasalah, jumlahnya cukup besar. Hanya sehari, pihaknya menerima lima pengaduan dari keluarga TKW, dan TKW itu sendiri. "Sehari ini (kemarin), ada lima pengaduan yang kita terima," ungkapnya.

Di antara kelima pengaduan itu, lanjut dia, keluarganya ada yang mengaku kehilangan kontak. "Ada dua TKW yang saat ini tidak jelas nasibnya, keluarganya mengadu kehilangan kontak hingga berbulan-bulan. Juga ada yang diputus kontraknya secara sepihak oleh juraganya, seperti yang menimpa Ibu Tumini ini," cetusnya.