Petik Laut


DALAM tiap bulan Muharam atau Syuro dalam penanggalan Jawa, bukan hanya petani, nelayan pun menggelar ritual untuk memohon berkah rezeki dan keselamatan. Seperti yang dilakukan komunitas nelayan di Muncar, Banyuwangi, Senin (12/1). Mereka melarung sesaji ke tengah samudera dalam kegiatan petik laut.

Bagi nelayan Muncar, petik laut adalah gawe besar yang tidak boleh ditinggalkan. Hari yang dipilih bulan purnama, tepat tanggal 15 di penanggalan Jawa.

Ritual diawali pembuatan sesaji oleh sesepuh nelayan. Mereka adalah keturunan warga Madura yang sudah ratusan tahun turun-temurun mendiami pelabuhan Muncar. Disiapkan perahu kecil dibuat seindah mungkin mirip kapal nelayan yang biasa digunakan melaut.

Perahu diisi puluhan jenis hasil bumi dan makanan yang seluruhnya dimasak keluarga sesepuh adat. Jenis makanan berbagai jajanan, nasi tumpeng dan buah-buahan, ditata rapi di perahu kecil tadi. Sesaji yang sudah jadi disebut gitek.

Pada hari yang ditentukan, ratusan nelayan berkumpul di rumah sesepuh adat sejak pagi. Mereka menggunakan baju khas Madura sambil membawa senjata clurit. Menjelang siang, sesaji diarak menggunakan dokar menuju pantai. Sepanjang iring-iringan, dua penari Gandrung ikut mendampingi. Bunyi gamelan Gandrung mengalun indah.

Nelayan menari sambil mengacungkan senjata cluritnya. Di depannya, dukun membawa abu kemenyan. Sambil melantunkan doa, dukun menyebarkan beras kuning simbol tolak bala.

Ribuan warga berdiri di sepanjang jalan mengamati perjalanan sesaji. Begitu lewat, warga berhamburan mengikuti di belakang menuju pantai. Arak-arakan berakhir di tempat pelelangan ikan, yang dihadiri jajaran Muspida Banyuwangi.

Sesaji tiba disambut enam penari Gandrung. Setelah doa, sesaji diarak menuju perahu. Warga berebut untuk bisa naik perahu pengangkut sesaji. Namun, petugas membatasi penumpang yang ikut ke tengah.

Sebelum diberangkatkan, kepala daerah diwajibkan memasang pancing emas di lidah kepala kambing. Ini simbol permohonan nelayan agar diberi hasil ikan melimpah.

Menjelang tengah hari, iring-iringan perahu bergerak ke laut. Bunyi mesin diesel menderu membelah ombak. Suara gemuruh lewat sound-system menggema di tiap perahu.

Dari kejauhan barisan perahu berukuran besar bergerak kencang. Hiasan umbul-umbul berkibar menambah suasana makin sakral. Begitu padatnya perahu yang bergerak, sempat terjadi beberapa kali tabrakan kecil.

Iring-iringan berakhir di sebuah lokasi berair tenang, dekat semenanjung Sembulungan. Kawasan ini sering disebut Plawangan. Seluruh perahu berhenti sejenak. Dipimpin sesepuh nelayan, sesaji pelan-pelan diturunkan dari perahu. Teriakan syukur menggema begitu sesaji jatuh dan tenggelam ditelan ombak.

Begitu sesaji tenggelam, para nelayan berebut menceburkan diri ke laut. Mereka berebut mendapatkan sesaji. Nelayan juga menyiramkan air yang dilewati sesaji ke seluruh badan perahu. “Kami percaya air ini menjadi pembersih malapetaka dan diberkati ketika melaut nanti,” kata Mat Roji, sesepuh nelayan Muncar.

Dari Plawangan, iring-iringan perahu bergerak menuju Sembulungan. Di tempat ini, nelayan kembali melarung sesaji ke dua kalinya. Hanya, jumlahnya lebih sedikit. Sebuah sasaji ditempatkan di nampan bambu dilarung pelan-pelan. Konon ini memberikan persembahan bagi penunggu tanjung Sembulungan.

Selesai larung sesaji, pesta nelayan dilanjutkan di pantai Sembulungan. Di pantai berpasir putih ini, para nelayan berdoa di makam Gandrung yang terletak di lereng tanjung Sembulungan. Makam ini adalah milik Gandrung yang pertama kali mengiringi ritual petik laut di Muncar.

Di tempat ini para nelayan juga mempersembahkan sesaji. Ritual diakhiri selamatan bersama. Kemudian dilanjutkan menikmati tarian Gandrung dengan gending-gending klasik suku Using, hingga sore hari.

Tradisi langka ini masuk dalam salah satu agenda pariwisata Banyuwangi. Sayang, ritual tersebut belum begitu dikenal turis mancanegara. Hanya warga lokal yang selalu memadati kegiatan ini. -udi

Penari harus Perawan

RITUAL petik laut wajib menghadirkan dua penari Gandrung yang masih perawan. Konon, ini berkaitan ritual petik laut pertama kali di Tanjung Sembulungan. Kala itu, seorang penari Gandrung mendadak meninggal dan dimakamkan di pinggir pantai. Sejak itu, petik laut wajib menghadirkan penari Gandrung.
Memilih penari Gandrung yang berani ikut ke tengah laut dan mendampingi sesaji tidak gampang. “Saya takut naik perahu, apalagi harus singgah ke makam Gandrung di Sembulungan,” ujar Wati penari Gandrung asal Rogojampi. Namun, rasa takut Wati hilang setelah penari Gandrung lainnya meyakinkan tidak akan terjadi apa-apa.
Akhirnya Wati menyanggupi ikut petik laut. Sebelum berangkat, penari Gandrung singgah di rumah sesepuh adat diberi doa khusus.
Dalam petik laut Januari itu pertama dan terakhir bagi Wati mengikuti ritual ini. Gandrung yang ikut mengarak sesaji hanya boleh sekali diundang. Tahun berikutnya akan diganti Gandrung lain.
Di sepanjang perjalanan, di atas perahu penari terus melenggang diiringi gamelan. Mereka melantunkan gending-gending Using. Isinya ungkapan suka-cita perayaan petik laut. Puluhan nelayan yang mengiringi gandrung ikut menari di atas perahu.
Kepiawaian Wati menari berawal sejak duduk di bangku SMA. Kemudian dia belajar di sanggar seni. Tiga bulan ditempa, Wati tumbuh menjadi penari andal. Dia sering manggung yang tak jarang dijalaninya semalam suntuk. -udi

Sakera Mirip Pecalang

SEJATINYA, petik laut adalah tradisi suku Jawa yang menyakralkan bulan Muharam atau Syuro. Di Muncar, ritual ini berkembang setelah kehadiran warga Madura yang terkenal sebagai pelaut. Tak mengherankan, jika petik laut selalu dipenuhi ornamen suku Madura. Salah satunya, seragam pakaian Sakera, baju hitam dan membawa clurit, simbol kebesaran warga Madura yang pemberani.
Seragam Sakera tersebut disiapkan khusus untuk upacara dan hanya dipakai sekali. “Ini bukan pemborosan, tetapi kami menghargai kesakralan upacara,” kata Khoirulah, salah seorang nelayan.
Petugas Sakera dipilih yang berbadan besar. Biasanya mereka berpenampilan sangar dan angker. Dengan kumis tebal dan gelang besar, Sakera juga diharuskan berpenampilan lucu.
Sakera juga menjadi pengaman jalanya ritual. Mereka selalu berjalan di depan mengawal sesaji dari lokasi upacara ke tengah laut. Mereka mengatur warga yang ingin berebut naik perahu. Sakera mirip Pecalang di Bali. Sesepuh adat juga mengenakan baju Sakera, serba hitam. Bagian dalam kaus loreng merah putih. Udengnya batik merah tua.

Nelayan Muncar juga mengenakan seragam ini pada tiap upacara adat lainnya. Bahkan sesekali digunakan ketika mereka melaut mencari ikan.