Hubungan Turki-Israel Makin Panas


ANKARA - Hubungan antara Turki dan Israel kian memanas setelah Kementerian Luar Negeri Turki memanggil Duta Besar (Dubes) Israel di Turki kemarin.

Pemanggilan Dubes Israel Gabby Levy itu untuk meminta penjelasan tentang pernyataan keras petinggi militer Israel Mayor Jenderal Avi Mizrahi bahwa Turki membunuh banyak warga Armenia pada 1915, menindas etnik Kurdi, dan menduduki wilayah Siprus. Tuduhan Mizrahi itu membuat marah Pemerintah Turki karena masalah itu sangat sensitif bagi Ankara. Ketegangan Turki-Israel itu dapat memengaruhi peran Ankara dalam mediasi perdamaian di Timur Tengah, bersama Mesir dan Prancis.

"Pernyataan Mayor Jenderal Avi Mizrahi itu tidak berdasar dan tidak dapat diterima. Kami meminta penjelasan dari Pemerintah Israel," ujar Kementerian Luar NegeriTurki kemarin. Ketegangan antara Turki dan Israel sebelumnya dipicu oleh perang mulut antara Perdana Menteri (PM) Turki Recep Tayyip Erdogan dan Presiden Israel Shimon Peres terkait agresi militer Israel di Jalur Gaza yang menewaskan lebih 1.330 warga Palestina.


Dalam perang mulut di acara Forum Ekonomi Dunia (WEF) Davos, Swiss itu Erdogan mengatakan,"Peres tahu dengan baik bagaimana cara untuk membunuh." Menanggapi pemanggilan Dubes Israel tersebut, Pasukan Pertahanan Israel (IEDF) menegaskan bahwa komentar Mizrahi bukan sikap resmi militer. "IDF berharap dapat mengklarifikasi bahwa itu bukan sikap resmi IDF.

Dubes Israel telah dipanggil dan mendengarkan keberatan Turki dan masalah itu telah disampaikan ke pemerintahan Israel di Yerusalem," ujar juru bicara Kementerian Luar Negeri Israel. Dalam wawancara khusus pada Jumat (13/2), Erdogan mengatakan, "Malangnya, pemilu Israel kali ini telah melukiskan sebuah gambar yang sangat gelap." Erdogan mendesak pemerintahan baru Israel untuk serius dalam membuat kebijakan dan tindakan terhadap warga Palestina serta bagaimana mencabut embargo di Jalur Gaza.

Menurut Erdogan, embargo berupa blokade perbatasan itu merupakan bentuk "penjara terbuka". Erdogan menegaskan, sikap keras Israel telah gagal. Seperti dikutip surat kabar Israel Haaretz, Mizrahi berkata, "Erdogan harus melihat di kaca sebelum menyerang Peres. Turki tidak memiliki posisi untuk mengkritik pendudukan Israel di tanah warga Palestina saat pasukan Turki juga menduduki wilayah utara Siprus." Mizrahi juga menuduh Turki menindas warga minoritas Kurdi dan membunuh warga Armenia pada Perang Dunia I.

Semua tuduhan Mizrahi itu langsung disangkal militer Turki. "Komentar itu telah mencapai level yang dapat merusak kepentingan nasional antara kedua negara," papar juru bicara militer Turki yang memperingatkan bahwa kerja sama militer Turki dan Israel yang selama ini terjalin dapat terganggu akibat ulah Mizrahi. Turki dan Israel memiliki hubungan kerja sama militer yang sangat dekat.

Ini termasuk dengan kesediaan Turki mengizinkan pasukan angkatan udara Israel untuk berlatih di wilayah Turki. Kedua negara juga saling membagi informasi intelijen dan memiliki hubungan perdagangan yang kuat, termasuk penjualan berbagai peralatan militer. "Ada sejumlah orang yang inginTurki memutus hubungan dengan Israel, tapi kami tidak sepakat.

Sebelum mengambil langkah atau memikirkan kebijakan itu,kami harus mengkajinya dulu," papar Erdogan. Ia juga menambahkan bahwa Turki tidak berencana menghentikan kesepakatan dalam program militer. Sejumlah diplomat dan analis mengatakan, Turki memegang peran penting sebagai mediator di Timur Tengah dan dianggap mampu bersikap netral dalam negosiasi antara Israel dan Syria.
okenews.com