Flu Burung Makin Meluas


Serangan virus flu burung atau avian influenza (AI) kian meluas di Bumi Blambangan. Setelah melanda Kecamatan Banyuwangi dan Wongsorejo, virus mematikan itu menyerang Kecamatan Kabat dan Purwoharjo.

Di Kecamatan Kabat, sedikitnya 250 ayam mati mendadak kemarin (4/2). Sebanyak 230 ekor ayam ditemukan mati di Desa Tambong. Puluhan ekor ayam juga ditemukan mati mendadak di Desa Macan Putih.

Petugas Participatory Diseases Surveylance and Respons (PDSR) Dinas Peternakan (Disnak) Banyuwangi, drh Nanang Sugiyanto mengatakan, setelah diperiksa, ayam yang mati mendadak itu dinyatakan positif flu burung. Rata-rata, ayam yang mati mendadak itu milik rumah tangga. Selama ini, masih belum ditemukan ayam mati mendadak di areal peternakan kecil dan besar. ''Penularannya sangat cepat, karena saat ini memasuki musim hujan,'' katanya.

Kejadian serupa juga terjadi di Kecamatan Purwoharjo. Sedikitnya puluhan ekor ayam ditemukan mati mendadak Dusun Ngadirejo, Desa Bulurejo."Tadi (kemarin, Red) pagi, kami dari Desa Tambong. Ayam yang mati banyak sekali," ujar drh M Lukman Hadi, petugas PDSR Disnak Banyuwangi.

Begitu tiba di Desa Bulurejo, petugas Disnak masih mendapati seekor ayam yang mati mendadak. Ayam milik Sumirah itu langsung diperiksa. Ternyata, hasilnya positif kena flu burung. "Kepalanya memerah, bulu perut yang banyak rontok. Pada perut tersebut tampak kebiru-biruan. Ini termasuk ciri utama flu burung," ujar Lukman Hadi.

Ayam yang dinyatakan positif flu burung itu langsung dibakar dan dikubur. Sedang kandang ayam dan lokasi sekitar rumahnya juga disemprot disinfektan. "Bila memegang ayam yang terkena flu burung hendaknya menggunakan alas tangan. Mulut juga harus memakai masker," ujar Lukman.

Dengan temuan tersebut, ayam yang positif kena flu burung sudah semakin meluas. Sebelumnya, Dusun Canga'an di Desa Genteng Wetan, Kecamatan Genteng sudah ditemukan kasus serupa. Demikian juga dengan kejadian ayam mati mendadak di Desa Karangdoro, Kecamatan Tegalsari.

Disnak pun menetapkan Banyuwangi berstatus waspada flu burung. "Bila ditemukan ayamnya mati mendadak, segera lapor ke perangkat desa setempat. Mungkin itu terkena flu burung," ujarnya.

Lukman berharap, warga segera melokalisasi gerakan ayam yang sudah terjangkit flu burung. Ayam tersebut hendaknya jangan disembelih atau dijual karena bisa membahayakan. "Ayam dan kandang segera disemprot, biar semua aman," imbuhnya.

Sementara itu, maraknya flu burung itu tidak membuat turunnya minat masyarakat untuk mengonsumsi daging ayam. Pantauan wartawan koran ini kemarin, harga ayam kembali melambung di Pasar Banyuwangi.

Harga ayam kampung yang pekan lalu Rp 38.000 per kilogram, kini naik menjadi Rp 40.000 per kilogram. Sedangkan harga daging ayam broiler yang sebelumnya Rp 18.000 per kilogram, kini naik menjadi Rp 20.000 per kilogram . ''Biasanya dalam sehari bisa menjual satu kuintal. Karena permintaan naik, jadi harga ayamnya semakin melambung,'' kata Siti, seorang pedagang daging ayam di Pasar Banyuwangi.