menikah


Menikah,Mengapa Takut ?


Bagi pemuda-pemudi yang masih lajang, menikah dengan pasangan yang diidamkan adalah suatu harapan dan impian. Namun, ternyata ada pula yang merasa takut untuk menggapai impian itu. Terbebas dari status lajang menjadi berkeluarga, memang membawa konsekuensi tertentu. Ada hak dan kewajiban yang musti dipenuhi, dan seseorang tidak bisa beraktivitas sebebas saat masih lajang, khususnya bagi kaum wanita.

Karena itulah, banyak di antara wanita karir yang takut karirnya terhambat gara-gara menikah. Sementara di antara lelaki, ada yang takut menikah karena memandang betapa beratnya beban seorang lelaki setelah menikah: harus bisa memimpin dan menafkahi keluarga.

Selain hal di atas, masih banyak sebab yang menjadikan orang takut menikah. Ketakutan seseorang untuk menikah ada yang masih dalam batas normal, ada yang sudah tergolong penyakit. Tergolong masih normal misalnya, takut tak mampu membahagiakan pasangan karena merasa rendah diri. Biasa terjadi pada seseorang yang memiliki penyakit fisik yang cukup kronis atau cacat tubuh. Tergolong normal namun cukup berlebihan diantaranya ketakutan untuk melakukan hubungan seks dan melahirkan. Hal ini bisa disebabkan karena trauma terhadap pengalaman, baik dirinya maupun orang lain. Pengalaman buruk karena pernah diperkosa, perasaan jijik karena melihat film porno, juga bisa berakibat trauma yang cukup dalam. Perasaan takut juga bisa disebabkan pengalaman orang lain yang didengarnya, sehingga ia menjadi takut dengan pernikahan. Atau, barangkali disebabkan riwayat pernikahan orang tua yang berantakan.

Sedangkan perasaan takut yang sudah tergolong penyakit adalah perasaan takut yang disebabkan kelainan jiwa. Paranoid dan psikopat misalnya, umumnya mereka memiliki kepribadian yang aneh, sensitif, penuh kecurigaan dan ketakutan.


Tumbuhkan Keberanian

Perasaan takut umumnya disebabkan oleh kekhawatiran akan terjadinya sesuatu yang sangat tidak diinginkan. Sebagaimana orang yang takut naik sepeda, belajar sedikit demi sedikit dengan bimbingan yang benar insyaallah akan bermanfaat. Membuat orang menjadi berani memang tidak semudah membalikkan telapak tangan. Dibutuhkan beberapa tahap dan pendampingan yang cukup intensif.

Faktor lingkungan juga cukup berpengaruh. Seorang yang takut menikah kadang karena lingkungan tidak menunjang. Tetangga kanan kiri berantakan pernikahannya, saban hari cekcok, bisa membuat citra buruk terhadap sebuah pernikahan.

Seharusnya, hal-hal tersebut justru dijadikan motivasi untuk membangun rumah tangga yang lebih baik. Tumbuhkan keberanian untuk melakukan perbaikan dimulai dari diri sendiri dan keluarga.


Tarbiyah Islamiyah

Sebaik-baik terapi adalah terapi islamiyah. Pada hakikatnya pendekatan psikologi dengan berdasarkan teori-teori barat tidaklah banyak membantu. Sebab teori-teori tersebut banyak yang dibangun diatas paham atheis dan marxisme. Bagi seorang muslim dan seluruh manusia, al-Quran adalah obat yang paling mujarab.



Jika seorang muslim benar-benar memahami aqidah tauhid dengan benar, ia tidak akan takut kecuali kepada Allah semata. Ia tidak akan takut, kecuali takut yang dibenarkan syariat. Takut kepada sesuatu yang disyariatkan merupakan godaan setan yang tidak disadari. Allah telah berfirman,


"Sesungguhnya mereka hanyalah setan yang menakut-nakuti (kamu) dengan teman-teman setianya. Karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, jika kamu orang-orang yang beriman." (Ali Imran:175)



Terkadang seseorang sudah kelihatan mapan agamanya, namun masih memiliki rasa takut yang tidak pada tempatnya. Dalam hal ini, keimanannya kepada Allah masih membutuhkan peningkatan.


Tingkatkan Motivasi

Di antara sebab orang takut terhadap sesuatu, adalah tidak adanya pengetahuan yang cukup mengenai hal yang ia takutkan. Ada salah persepsi dalam benaknya. Menghindari sesuatu yang ia takutkan baginya lebih baik dan tidak menambah masalah.

Perasaan seperti itu menandakan kurangnya motivasi pada diri seseorang. Takut menikah, berarti ia kurang memahami dengan benar hakikat sebuah pernikahan. Ia tidak mengetahui hikmah, berkah dan pahala berlipat yang dapat diperoleh melalui sebuah pernikahan.Wajar bila akhirnya tidak termotivasi. Meningkatkan motivasi diyakini mampu meningkatkan keberanian seseorang untujk beramal. Bisa ditempuh dengan banyak belajar dan meminta bimbingan orang-orang yang lebih alim.

Jika ia telah mengetahui, tapi tetap tidak termotivasi juga, berarti ada sesuatu yang salah dalam dirinya. Di antara pendapat para ulama, hal seperti itu termasuk penyakit hati yang membutuhkan penanganan segera. Seorang yang tidak termotivasi dengan kenikmatan dan pahala serta surga tentu tidaklah sehat hati atau jiwanya.


Tawakal kepada Allah

Orang yang takut hendaknya bertawakal kepada Allah. Ia harus yakin bahwa Allah akan menolong dan membantu hamba-Nya yang shalih. Takut yang tidak sesuai dengan tuntunan syariat, harus diyakini sebagai godaan setan yang harus disingkirkan. Ayat-ayat Al-Quran tidak sekedar dibaca, namun wajib dihayati nilai-nilainya dan diyakini kebernarannya. Allah l berfirman,



"Dan dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan-Nya. Sungguh, Allah telah mengadakan ketentuan bagi setiap sesuatu." (Al-Thalaq:3)



Berobat kepada Ahlinya

Rasa takut yang sudah termasuk penyakit kejiwaan seperti paranoid, psikopat dan semisalnya, membutuhkan perawatan yang lebih rumit. Banyak kasus rasa takut yang disebabkan karena adanya disfungsi atau kelainan fisik. Tidak ada salahnya berobat ke pasikolog, psikiater atau ahli jiwa yang amanah. Sebagaimana hukum berobat kepada dokter atau ahli nonmuslim (selama memegang amanat), para ulama memperbolehkan hal ini.


disadur dari http://atturots.or.id